Selasa, 27 Oktober 2009

Bumi Gonjang-Ganjing..

Gempa bumi seolah tiada henti melanda negeri ini.
Aceh, Djokja, Tasikmalaya, Sulawesi tenggara, Padang, Bengkulu, Sukabumi, Gorontalo, Morawali, Banten, Manokwari, Maluku, NTT dan gempa-gempa lain yang terasa maupun tidak. Terdengar maupun tidak. Menurut berita, tercatat 47 kali gempa pada periode 1 – 25 Oktober 2009.



Ada apa dengan bumi ini?
Menurut ahli yang memegang kaidah sebab-akibat materialistik, gempa bumi terjadi karena tumbukan antar lempeng tektonik bumi. Banyak terjadi di bumi tempat kita berpijak karena Indonesia masuk dalam deretan Ring of Fire.
Gempa-gempa itu tidak hanya melanda negeri ini, Afganistan, Pakistan dan beberapa lainnya mengalaminya.



Bagi sebagian orang, gempa bumi yang susul-menyusul itu adalah rangkaian pesan dan peringatan dari DIA Yang Maha Kuasa.



Gempa bumi di Banten yang terjadi pukul 16.52, seolah merupakan pesan dari DIA Yang Maha Kuasa kepada orang-orang yang berpaling:
“Dan kepunyaanNya lah segala apa yang ada di langit dan di bumi, dan untuk-Nyalah ketaatan itu selama-lamanya. Maka mengapa kamu bertaqwa kepada selain Allah?”
Kenyataan menunjukkan, banyak orang yang bertaqwa kepada selain Allah: harta benda, jabatan, partai, ego dan nafsu, dan lain-lain.
Gempa di Saumlaki, Maluku, 21.40, seolah DIA mengingatkan kembali: Azab itu datang kepada mereka dengan sekonyong-konyong lalu membuat mereka panik. Mereka tidak sanggup menolaknya dan mereka tidak diberi tangguh.
Fakta menyatakan, tak ada satu ahlipun yang mampu meramalkan datangnya gempa dengan tepat.

Gempa di Waingapu, NTT, 3.45, seolah DIA mengatakan tentang kehadiran Al Masih Isa putra Maryam di bumi ini.
Bukankah Dajjal telah lama muncul disekitar kita? Dajjal yang picak, yang hanya memiliki sebelah mata, yang dengan mata itu ia hanya memandang dan menawarkan semata-mata hanya kehidupan duniawi belaka?
Surga (duniawi) nya adalah Neraka bagi orang-orang yang beriman. Dan Neraka baginya, sesungguhnya adalah Surga bagi orang-orang yang beriman.

Jika tumbukan antar lempeng itu terus terjadi di bumi pertiwi ini, bisa jadi lempeng bumi itu retak-retak dan rapuh. Semburan lumpur dari perut bumi yang mulai banyak muncul dibeberapa tempat, bisa jadi menunjukkan keretakan dan kerapuhan itu. Dan, jika hentakan gas lantas menyembur dan memisahkan ikatan antar retak-retak lempeng, sedang lempeng bumi mengambang diatas fluida magma,





"Akankah retak-retak lempeng itu menjadi amblas tenggelam dalam fluida magma? Dan bumi membalas dengan lontaran asap dan debu ke angkasa, serta mengeluarkan cahayanya?"



"Akankah kalender bangsa Maya yang terhenti ditahun 2012 menunjukkan sesuatu yang dahsyat yang bakal terjadi setelah itu? Wa Allahu a’lam bishawab, dan tidak ada sebuah peristiwa pun yang terjadi karena kebetulan".



"Haruskah kita menunggu satu peringatan yang sangat keras di ujung nusantara ini?"

Semoga.....
sebelum adanya peringatan sangat keras yang menakutkan kita, sebelum kejadian dahsyat itu menimpa, dan sebelum ajal menjemput,
kita diberi-NYA waktu untuk meraih derajat iman dan taqwa yang setinggi-tingginya.. Amiin Ya Allah Ya Rabbal alamin..



Salam
Abet



KESADARAN MANUSIA (1)

Sesuai dengan unsur-unsur pembentuk makhluk yang bernama manusia (lihat tulisan saya yang berjudul: Manusia Makhluk Yang Kumplit), ada 4 Kesadaran yang dimiliki oleh manusia. Ke - empat kesadaran itu adalah: Kesadaran Materi, Kesadaran Energi, Kesadaran Cahaya, dan Kesadaran Ilahiah.



Dalam kesempatan ini, ijinkanlah saya share pemahaman saya tentang Kesadaran manusia tersebut kecuali tentang Kesadaran Ilahiah, karena sedikitpun saya tidak memiliki pemahaman tentang yang satu ini.



Perlu dipahami, ini adalah pemahaman saya pribadi, jadi kemungkinan salahnya sangat besar. Untuk itu perlu di ”compare” dengan sumber literatur lain yang lebih sahih, yang anda miliki, sehingga, insya Allah, akan menyempurnakan pemahaman anda.




KESADARAN MATERI
Kesadaran Materi adalah kesadaran sebagai tubuh fisik (biologis) yg biasa kita alami dan kita pakai saat ini. Secara default, kesadaran manusia berada pada kesadaran fisik ini, walau sesungguhnya secara tidak sadar, kesadaran kita sering berpindah ke kesadaran yang lebih tinggi yaitu Kesadaran Energi.



Contoh perpindahan kesadaran dari Kesadaran Materi ke Kesadaran Energi yang biasanya tidak disadari adalah Melamun, Tidur dan Koma.



Melamun, kita tidak sadar kapan saat-saat perpindahan dari dunia terjaga (sadar) menuju ke alam lamunan. Tidur, walau setiap hari kegiatan tidur ini kita lakukan, namun saat-saat perpindahan kesadaran kita dari Alam terjaga ke alam mimpi, alam energi, tidak pernah kita sadari. Koma pun demikian, bisa dimasukkan ke dalam kelompok Perpindahan Kesadaran Yang Tidak Disadari ini.



Kesadaran Fisik dapat saya diibaratkan dengan program Operating System (OS) yang residen (dorman) dalam memory RAM (Random Access Memory) sebuah komputer.



Seperti kita ketahui, OS adalah program dasar untuk mendayagunakan Hardware CPU computer. Program OS ini memang tidak dirancang untuk bisa melakukan ”ketrampilan” yang dibutuhkan oleh pengguna komputer seperti pengolah angka (spreadsheet), pengolah kata (Word Processor), pengolah gambar, dan "aplikasi ketrampilan” yang lain. Untuk itu user komputer harus menambahkan (install) program aplikasi ketrampilan yang dibutuhkan. Setelah aplikasi ketrampilan itu dimiliki, User tinggal klik icon untuk mengaktifkannya.



Klik yang dilakukan oleh User, merupakan perintah kepada OS untuk menjalankan program aplikasi yang telah terinstall dalam Harddisk komputer tersebut, membuatnya residen di memory RAM, sehingga siap digunakan sewaktu-waktu oleh User.



Begitu pula dengan prinsip kerja Otak yang berisi program OS Kesadaran Fisik manusia. Dalam otak manusia ada program OS yang selalu berjalan (running) ketika kita sedang terjaga (ON) dan akan di shutdown ketika tubuh fisik akan tidur (standby).



Ketika kita ingin mengaktifkan suatu ketrampilan yang kita miliki (pernah diinstall - belajar), misal membuat kue, maka Niat kita akan meng-klik icon membuat kue, yang membuat OS Otak meng-akses aplikasi ketrampilan membuat kue yang disimpan pada Tubuh Energi (Harddisk), dan meng-upload-kannya (residen) ke memory Otak (RAM). Tubuh Energi kitalah yang memiliki fungsi sebagai HardDisk, yang menyimpan seluruh aplikasi ketrampilan, sebagai database pengetahuan dan pengalaman kita, dari mulai dari dalam kandungan bunda hingga saat ini. (Lihat tulisan saya tentang Memory Yang Abadi).



Analogi lain yang lebih sederhana, tubuh fisik kita ini bisa kita ibaratkan dengan artis di pertunjukan Wayang Orang. Tingkah-polah artis wayang ini tergantung dari Peran dan Scenario yang diberikan oleh Sutradara dibalik pentas. Meski sebagai Petruk, bisa saja dimainkan jadi Ratu oleh Sutradara. Meski sebagai Dasamuka, bisa saja dimainkan ”genit” kayak waria yang lagi menggoda... Walau sebetulnya, Ki Dalang tidak bisa sembarangan karena sudah ada pakemnya dari sono.



Dari analogi diatas, bisa katakan: Wayang adalah Kesadaran Materi, Peran dan Scenario adalah Kesadaran Energi, sedang Sutradara adalah Kesadaran Cahaya.



Kesadaran Materi / Fisik tubuh ini bisa dikatakan sebagai Kesadaran Semu, karena ia hanya merupakan bayang-bayang atau ”copy-paste” dari Kesadaran Energi. Kesadaran ini mudah hilang, ”hanya” karena ”membentur” sesuatu yang keras, dapat menyebabkan Otak kita ”putus” hubungan dengan tubuh Energi. Amnesia, lupa ingatan, tidak sadar siapa dirinya, dimana alamat rumahnya, bahkan tidak ingat dengan istri, saudara dan teman yang sebelum amnesia terjadi sangat akrab dikenalnya. ”kang.. aku Luna kang.. istrimu, masak nggak inget sih???” kang.. kang..!! Namanya juga amnesia.. bukan lagi shooting..



Banyak yang menyangka, berpendapat, bahwa Kesadaran Materi ini adalah kesadaran manusia satu-satunya. Ilmu Kedokteran, neuro science, psikologi, membatasi dirinya pada batas-batas logika materialistis. Sehingga (dalam ilmu psikologi) muncul istilah Alam Sadar dan Alam Bawah Sadar. Para ilmuwan ”ngutak-atik” dan hanya berkutat sebatas ”Artis yang berperan Petruk”, tidak mau tahu ”naskah” skenario yang ada diluar si artis. Padahal, kejadian ”amnesia”, hilangnya kesadaran dari tubuh fisik seseorang, bisa diibaratkan dengan artis yang lupa dengan peran yang dimainkannya.



Sehingga ”wajar” kalau ilmuwan sono berpendapat ada Godspot di otak manusia. Padahal, orang yang beriman paham, bahwa Godspot itu tidak hanya ada di otak saja. Semua yang tampak oleh mata dan tidak tampak adalah Godspot. Kemanapun kita menghadap disitulah Wajah NYA.



Wajar juga jika para ilmuwan mencari sebab suatu penyakit yang diderita oleh seseorang, kanker misalnya, lebih banyak membatasi diri pada sebab-sebab materialistis, seperti karena menkonsumsi makanan tertentu.



Dampak dari sangkaan kesadaran tunggal ini, atau lupa akan adanya kesadaran yang lebih tinggi, sungguh luar-biasa negatif. Perlombaan mencari kekayaan duniawi yang menghasilkan penindasan dan kedzoliman. Perjuangan untuk terus awet-muda, yang pada kenyataannya tidak pernah ada yang bertahan awet muda. Sunnatullah semua orang akan menjadi tua, peot dan reyot. Produk-produk kecantikan yang laku keras, bisa jadi merupakan dampak dari keyakinan kesadaran tunggal ini, sadar atau tidak sadar.



Namun, syukur alhamdulillah, kemajuan pemahaman tentang pikiran, kekuatan pikiran, yang merupakan komponen dari alam kesadaran Energi, sedikit banyak telah mewarnai para ilmuwan.



Diluar ilmu pengetahuan yang saya sebutkan diatas, kemajuan dalam ilmu fisika kuantum, dengan konsep Participating Observer nya, saya yakin akan membuka cakrawala baru peradaban umat manusia. Sebuah tulisan yang merupakan buah pemikiran Muhammad Hikam, Staf Pengajar Fisika FMIPA Universitas Indonesia dan Penelaah Naqshbandi-Haqqani, yang berjudul “Fisika Modern Bersua Sufisme”, (copy artikelnya ada di blog saya ini, silahkan dibaca) mengungkapkan singgungan antara dunia materi dengan dunia immateri, singgungan dunia materi dengan alam pikiran, atau yang saya maksud termasuk dalam Alam Energi. Buah pemikiran beliau itu, bisa menjelaskan teka-teki mind over matter, teka-teki mengapa jin iffrit bisa memindahkan Singgasana Ratu Bilqis dalam sekejab.



Fenomena Paralysis Nocturna alias ketindihan, atau orang Sunda bilang eureup-eureup, adalah suatu kondisi dimana selama beberapa detik kita tidak bisa bergerak sama sekali, atau bahkan untuk bersuara. Perasaan sudah berteriak keras minta tolong.. tapi tidak ada yang mendengar. Biasanya kondisi ini terjadi saat-saat kita mau tidur, rebah-rebahan menjelang jatuh tertidur.



Kalau saya ingat-ingat pengalaman saya, yang saya rasakan sebelum ketindihan melanda, didahului dengan adanya perasaan ”aneh”, ada sensasi-sensasi getaran yang halus pada tubuh. Kesadaran saya yang berada didalam tubuh seolah-olah ”menciut”. Sepertinya akan melihat suatu penampakan, dan cara saya melihatpun juga rada aneh.



Apa dan mengapa eureup-eureup itu? Menurut pemahaman saya, adalah sebuah kondisi dimana fisik kita sudah kadung istirahat dan kesadaran kita sudah berpindah ke Kesadaran Energi, tetapi Kesadaran Energi kita masih berada (melekat) dalam badan fisik kita yang sudah standby tersebut. Perpindahan Kesadaran yang tidak kita sadari inilah ”gara-gara” nya, yang menyebabkan kita tetap berpikir secara Logika – logika kesadaran materialistik.



Jika kita analogikan dalam ilmu fisika, kita masih berpikir secara Fisika Klasik sementara materi yang diteliti berada wilayah Fisika Kuantum. Jaka-sembung..



Wa allahu a’lam

Salam



Abet

Rabu, 14 Oktober 2009

Sholat Yuuk.. !?

Sholat yuuuk..?? Nanti ah.. kalau sudah benghaar… busyet dah..!! Sholat nunggu kaya (benghar) dulu?? Kapan kaya-nya? Gimana kalau keburu inalillahi?

Sholat adalah tiang agama. Tanpa pernah melakukan sholat, lalai dalam sholat, “jangan mimpi” kalau masih dianggap sebagai orang yang beriman, orang yang tunduk patuh kepada Allah SWT.

Betapa penting dan betapa tinggi, kedudukan ibadah sholat ini, hingga dalam sebuah hadist disebutkan, inilah ibadah yang kelak pertama kali akan dihisab dihari pembalasan. Top markotop bukan?

Melakukan Sholat, bukan semata-mata menggerakkan tubuh fisik dan membaca bacaan-bacaan tertentu sesuai aturan yang berlaku. Sholat yang dilakukan hanya untuk menggugurkan kewajiban semata, ”bisa-jadi” sholatnya banyak lalai dari mengingat Allah, sedikit sekali mengingat Allah. Padahal tujuan Allah memerintahkan kita mendirikan sholat adalah untuk mengingat Nya, mengingat Allah. Dzikrullah.

Pertanyaan untuk sekedar introspeksi diri:
”Berapa % se waktu sholat kita mengingat Allah?”
”Berapa % se waktu sholat kita haqqul-yaqin sedang berkomunikasi dengan Allah? ”
1%? 20% atau sudah 100%?
”Apakah kita hanya membaca-baca BACAAN SHOLAT? Atau sedang memuji-muji dan berdoa kepada Allah?

Untuk lebih memahami pelaksanaan sholat, saya coba mengira-ira manfaat Sholat bagi tubuh biologis kita, hati dan jiwa kita.

Manfaat Sholat Untuk Tubuh Fisik
Saat ini, sudah banyak orang yang membahas manfaat gerakan sholat ditinjau dari sudut Dimensi Alam Materi, tubuh biologis, bahkan ada buku yang secara khusus membahasnya. Ustadz Abu Sangkan dalam beberapa kesempatan di “tipi” dan dibuku ”Sholat Khusuk” karyanya juga sudah membahasnya. Monggo dilihat dan dibaca. Saya tidak akan membahasnya karena memang tidak mampu.. hehehe..

Saya percaya, salah satu manfaat sholat untuk tubuh fisik kita adalah meningkatkan kecerdasan otak, daya kerja otak. Rukuk dan sujud yang relax, pasrah, dan tumakninah, akan menyebabkan lebih banyak darah dan oxygen yang mengaliri otak menjadikan otak bekerja optimal.

Namun manfaat Sholat untuk kesehatan tubuh biologis, jangan dijadikan tujuan utama, anggap saja sebagai ”efek-samping positif”. Tujuan utama melakukan Sholat adalah beribadah kepada Allah, tujuannya adalah meraih kemenangan. Hayyaalfalah..

Manfaat ShOlat Untuk Tubuh Energi
Bayangkan.. dengan sholat yang benar, yang khusuk, kita terhubung Dzat yang Maha Agung, Maha Mengetahui.. Hening.. suasana pikiran kita hening sekali. Dengan sholat sejenak pikiran kita ”istirahat” dari berpikir duniawi, apa jadinya? Yang tadinya ruwet memikirkan urusan duniawi, kini? Bila tadinya ada Stress yang melanda pikiran, kini berkurang.

Minimal 5 kali dalam sehari, pikiran kita ”istirahatkan”. 5 kali sehari Nafsu, Ego dan Emosi kita ”pause” yang Efek positifnya sangat bagus bagi kecerdasan emosi (EQ). 5 kali sehari tubuh Energi kita charge.

Contoh kecil manfaat dari pikiran yang istirahat sebentar:
Sebelum sholat, mungkin (pikiran) kita pusing nyari-nyari sebuah kunci, lupa naruh.. ketika kita takbir dengan pikiran yang sangat hening: ”Allaaaahu Akbarrr..” eh.. mendadak keinget.. aha.. kuncinya ternyata ada disono to!!!. Ini insya Allah bukan bisikan godaan dari setan, melainkan karena pikiran kita tenang, NEE tenang tidak nge-blok pikiran, sehingga kesadaran kita menjadi ”connect” dengan kesadaran yang lebih tinggi..
Atau contoh yang lain: Ide-ide cenderung mengalir lancar ketika kita lagi sholat dengan tenang..
Memang jadi tidak khusuk kalau pikiran diperturutkan membahas ide-ide yang muncul. Dan masih banyak lagi manfaat sholat bagi tubuh energi kita, pikiran kita.

Manfaat ShOlat Untuk Tubuh Cahaya
Sesungguhnya, manfaat sholat yang terpenting adalah untuk Tubuh Cahaya kita. Sholat dapat diibaratkan sebagai langkah-langkah Jiwa kita dalam perjalanan kembali kepada Nya. Semakin berkualitas sholat kita semakin banyak dan tinggi langkah spiritual yang kita tempuh. Dalam bahasa Pahala: pahalanya dapet banyuaak.. Ketika sholat, jiwa kita berusaha bertemu dengan Allah. Pertanyaannya: ”bertemukah Jiwa kita?” jawabnya tergantung kebersihan diri. Dalam pertemuan itu (walau tidak dekat bertemu), jiwa diberi petunjuk, taufik dan hidayah dari Allah apa-apa yang musti dilakukan. Itulah salah satu jawaban, mengapa Allah menyatakan dalam firman-NYA: ”jadikan Sholat dan sabar sebagai penolongmu”. Waallahua’lam.

Tapi Masalahnya.. masalah yang umum, koneksi antara Jiwa Kita dengan tubuh fisik ini banyak yang belum ”plong”. Akibatnya, taufik dan hidayah dari Allah itu tidak ”loud and clear” kedengaran. Padahal taufik dan hidayah itu sangat kita perlukan untuk kehidupan dunia dan akhirat kita. Piye jal??? Kumaha atuh??

Sholat adalah salah satu perwujudan ibadah kepada Allah.
Sholat adalah sebuah perbuatan. Bacaan sholat bukanlah bacaan-bacaan semata, atau mantra-mantra, melainkan pepujian dan doa yang kita tujukan kepada Allah. Maka sampaikan pepujian dan doa itu dengan penuh kesadaran. Kesadaran bahwa kita sedang menghadap dan memuji-muji NYA, dan kesadaran bahwa kita sedang ditatap oleh-Nya.
 Orang bilang, melakukan segala sesuatu itu harus ada ilmunya, harus tahu visi dan misinya, kalau nggak punya bisa “sesat” nanti. “Sesat” disini saya maknai dengan tidak sampai pada tujuan ibadah tersebut.

Agar lebih khusuk, agar lebih sadar, dalam sholat, saya mencoba memahami maksud ritual sholat saya, sebagai berikut:
Takbir. Mengakui, pengakuan diri, bahwa Allah Maha Besar, tidak ada satupun yang mampu menandingi kebesaran-Nya. Tidak ada.
Melantunkan Al Fatihah, pepujian kepada Allah dan mohon ditunjukkan jalan yang lurus.
Pembacaan surah Al Qur’an, untuk menegaskan bahwa ayat-ayat itu benar firman-Nya.
Rukuk. Sebuah bentuk penghormatan kepada Allah yang Maha Suci, RobbiAl Adziim..
Sujud. Menegaskan ke-berserah-an diri kita kepada Allah Yang Maha Tinggi, menyungkur, bersujud kepada-NYA. Kita yang tidak punya daya apa-apa, kecuali seluruhnya adalah dari DIA Yang Maha Memiliki.
Duduk sopan bersimpuh. Berkomunikasi menghadap Allah, dimana kita adalah seorang hamba. Sebagai hamba ndak boleh kurang-ajar, atau menganggap diri sejajar sederajat.
Mengacungkan telunjuk saat duduk atahiat, adalah sebuah ikrar keyakinan bahwa Allah Maha Esa, tidak ada tuhan selain DIA.
Salaam tengok kiri, tengok kanan maknanya adalah mengakui bahwa Allah Maha Mengetahui. Kemanapun kita menghadap, disitulah Wajah Allah.

 Mengartikan ShOlat
Untuk menambah pemahaman, kesadaran kita tentang hakikat sholat, saya coba mengartikan ritual sholat, dengan ”terjemahan bebas dan singkat” berikut.
”Mohon Periksa Ada-nya”, tidak seluruhnya saya terjemahkan, dan saya bukan hendak mengajak anda para pembaca untuk sholat dalam bahasa Indonesia atau dwi-bahasa, sama sekali tidak.
Berikut terjemahan bebas (sebagian) nya:
Mangga.. maknai sholat anda dengan pemahaman yang anda miliki. Semoga dengan memaknainya, akan membawa kita ke pemahaman yang lebih dalam, memunculkan kesadaran baru... Amiin.
(Takbir) Allahu Akbar. Ya Allah hamba takbir untuk mengakui bahwa Engkaulah Yang Maha Besar. Tidak ada satu apapun juga yang mampu melebihi diriMU. Tidak ada.
Sungguh, hamba hadapkan jiwa hamba ini kepada-Mu Ya Tuhan yang menciptakan langit dan bumi.
Hamba tunduk dan berserah diri kepada MU.
Dan hamba bukanlah golongan orang yang musrik.
Sesungguhnya, sholat hamba, ibadah hamba, hidup dan mati hamba, semata-mata hanyalah untuk MU Ya Allah, Tuhan pemegang kekuasaan seluruh alam.

Dengan menyebut nama-MU Ya Allah, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Segala puji hanya bagi-MU, Tuhan semesta alam,
Engkau Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,
Yang menguasai hari pembalasan.
Hanya kepada Engkaulah hamba menyembah dan hanya kepada Engkaulah hamba memohon pertolongan
Tunjukilah hamba jalan yang lurus, jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan mereka yang dimurkai dan bukan mereka yang sesat.

Ya Allah, hamba membaca ayat-ayatMU. Karena hamba percaya, bahwa ayat-ayat itu benar berasal dari-MU dan hamba yakin Maha Benar Engkau dengan seluruh firman-MU. Ayat-ayat surah Al Ikhlas ini hamba baca, Maha Benar Engkau Ya Allah..

(Rukuk) Ya Allah. Hamba rukuk, sebagai hormat hamba kepada Engkau. Maha Suci Engkau Ya Tuhan, lagi Maha Adziim.
(Sujud) Ya Allah hamba bersujud dihadapan Engkau. Hamba berserah diri kepada Engkau wahai Dzat Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi.
(Duduk Iftirasy)
Ya Allah ampunilah hamba..
Ya Allah rahmatilah hamba..
Ya Allah, berilah hamba jalan untuk mendapatkan rizki..
Ya Allah berilah hamba informasi dan petunjuk agar hamba dapat menyelesaikan segala permasalahan yang sedang hamba hadapi ini..
Ya Allah, hamba mohon kesembuhan bagi penyakit-penyakit hamba ini..
Ya Allah, ampunilah hamba-Mu ini..
 (Duduk Bersimpuh) Ya Allah, hamba duduk bersimpuh dihadapan Engkau.
(Salam Kanan Kiri) Walau hamba tidak bisa melihat-MU, namun hamba yakin, haqqul yakin, bahwa Engkau Maha Mengetahui. Maka terimalah ibadah sholat hamba ini, terimalah takbir hamba, terimalah rukuk hamba, terimalah sujud hamba. Amiin.


Sedikit Sharing Pengalaman Sholat
Dalam sebuah kesempatan Sholat Tahajjud, saya pernah sulit untuk bisa khusuk. Pikiran saya paksa diam, tunduk, agar ”rasa ingat” kepada Allah menjadi dominan.. eh tetep saja lari kiri-kanan, semakin dicoba dikendalikan semakin susah diatur. Akhirnya saya biarkan saja, saya ”tantang” pikiran saya ini sampai berapa lama ia bisa bertahan begitu.
4 rakaat pertama sholat, pikiran masih liar.
4 rakaat kedua, belum juga terkendali. Astaghfirullah al adziim.
4 rakaat berikutnya.. sudah mulai melemah meski masih juga suka ”ngelayap”.
4 rakaat berikutnya.. barulah pikiran saya tidak membuat ulah..

Dasar pikiran!!! Kalau sudah kelamaan dipakai ”out of center”, jadilah ”keterusan bin tuman”.

Sholat itu tiang agama. Jika ritual sholat bisa kita pahami dengan mantab, bisa berdiri kokoh, insya Allah akan menjauhkan diri dari perbuatan keji dan munkar. Jalan spiritual kita terbentang tinggi.
Semoga ketika kita sholat, Allah berkenan memberikan taufik dan hidayah-Nya, petunjuk-petunjuk yang kita butuhkan untuk hidup didunia dan akhirat. Semoga kita bisa men Jadikan sholat dan sabar sebagai penolong kita. (Syarat dan Ketentuan berlaku).

"Hayuuu urang sholat...."
"Hayuuu urang ngaraih kamenangan...

Yuuk,,,,  Semoga dapat membantu meningkatkan kualitas sholat kita semua, bukan lagi pada tataran sholatnya ”anak kecil” yang terus-menerus goyang-goyang badan sambil tengok kiri kanan dan garuk-garuk melulu selama sholat.. Semoga. Allahu a’lam.

Salam
Abet

Kamis, 08 Oktober 2009

Selamat Iedul Fitri

Masih ingatkah anda dengan pertanyaan ini: “Am I not your Lord?”
Jawab pertanyaan ini dengan jujur.

”Jujur” jawab anda. hehehe..

Jika pertanyaan itu diajukan ke saya sendiri, saya tidak bisa menjawabnya.
Jika saya jawab ”iya, inget”.. berarti saya bohong.. wong nyata-nyatanya nggak inget atau belum inget.
Jika saya jawab ”tidak ingat”.. saya takut dosa besar. Tapi, rasa-rasanya.. memang tidak inget tuh?? Sudah saya coba ubek-ubek memory ini. Nggak juga nemu file-nya. Padahal katanya, atas pertanyaan itu saya lalu menjawab: ”balaa syahidnaa”.

Wex.. blaik!! kok bisa nggak inget ya? Apa yang salah nih?? Ini Pertanyaannya yang tidak pada tempatnya? Ataukah kekotoran diri yang menjadi hijab ini demikian legamnya?

"Ya Allah.. ampunilah hamba. Bukan hamba hendak mengingkari pertemuan itu. Engkau Allah Tuhanku Yang Maha Benar. Seluruh firman-Mu, benar.. Tapi mengapa hamba lupa dengan kesaksian itu Ya Allah. Ampuni hamba Ya Allah. Ampuni hamba. Ampuni hamba".

Iedul Fitri
Bisakah kita kembali kepada fitrah itu? Fitrah yang memungkinkan kita bisa berkomunikasi langsung dengan Allah, sebagaimana para Nabi dan Rasul? Dan orang-orang suci lainnya? Saya yakin kita bisa.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", (QS 7:172)

Ayat tersebut bagi saya membuktikan, kita bisa kembali berkomunikasi dengan-Nya jika kita kembali kepada fitrah diri – Iedul Fitri. Para Nabi dan Rasul seperti nabi Muhammad SAW contohnya. Dengan kesucian beliau, fitrah beliau, beliau dijadikan mampu berkomunikasi langsung (kembali) dengan Allah. Nabi-nabi lain seperti nabi Ibrahim, nabi Isa, nabi Musa dan juga orang-orang yang disucikan, bisa.

Apa hubungannya dengan Iedul Fitri? Yang setiap tahun selalu kita rayakan? Adakah yang belum tepat dengan ibadah shaum ramadhan saya, jika saya tidak juga kembali-fitri?

Lalu apa makna hari raya Idul Fitri dan ucapan selamat hari raya Iedul Fitri: Taqobbal minna wa minkum, minal 'a idin wal faaizin, wa kullu 'aamin wa kuntum bi khaiir (Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan Anda, dan semoga kita termasuk golongan orang-orang yang kembali [ke fitrah] dan termasuk golongan yang meraih kemenangan. Semoga sepanjang tahun Anda senantiasa dalam kebaikan)?. Apa makna ucapan ini jika kita belum juga kembali fitrah?.

Walau, rasa-rasanya memang tak ada yang salah dengan ucapan selamat itu, karena ada kata 'semoga', yang menunjukkan tidak semua yang berpuasa kembali ke fitrahnya, tidak semuanya meraih kemenangan. Nah looo....
Benarkah saya sudah kembali ke fitrah? Apa buktinya saya kembali fitri seperti bayi yang baru lahir, tidak punya dosa. Sebagaimana rasulullah SAW pernah bersabda, "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, suci."

Bagaimana saya tahu bahwa saya sudah tidak mempunyai dosa lagi? Atau paling tidak dosa-dosa saya tinggal dikiiit skalii?

Pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk dibenak saya itu saya ajukan ke seorang embah yang saya percayai. Embah ini menurut pemahaman saya memiliki habluminallah yang baik sekali.

”Mbah, Boleh nggak saya bertanya begitu? Gimana mbah kira-kira?”

”Ada beberapa hal yang harus kamu lakukan, nak..
Pertama, lakukanlah Introspeksi.. Introspeksi.. dan Introspeksi. Mulailah jujur dan terbuka pada diri-sendiri. Jika kamu telah menemukan kekurangan-kekurangan dirimu dalam beribadah kepada Allah Tuhanmu, maka perbaikilah”.

"Eh.. anu mbah.. saya ini rada-rada o-on, gimana caranya untuk introspeksi itu?"

”Just berpikir dan berusahalah untuk introspeksi. Insya Allah nanti akan dapat pertolongan dari Allah Tuhanmu”.
Bukankah ada sebuah ayat yang berbunyi kira-kira demikian: ”Jika kita bersungguh-sungguh mendekatkan diri kepada Allah, maka Allah akan membukakan jalan-jalannya untuk kita”.

”Allah nanti akan memberikan hidayah, perintah yang harus kamu jalankan. Hidayah setiap orang itu berbeda-beda, disesuaikan dengan ”settingan pribadi” masing-masing orang”.

"Jika kita bisa menjalani hidayah – perintah Allah dengan baik dan benar, tunggulah.. Someday, Allah akan memberikan ”Spirituality-meter” – sebuah alat ukur untuk mengetahui kondisi keikhlasan, kesabaran dan lain-lain terkait dengan habluminallah kepada kamu. Yang nantinya bisa kamu pakai kapan saja.
Bersyukurlah kamu.. ”

”Ooo.. Begitu ya mbah...”

”Jangan lupa.. Ikhlas dan Sabar dalam menjalani perintah-NYA. Usahakan Nafsu, Ego dan Emosimu pada Titik NOL. Goyang-goyang dikit ndak papa.. tapi jangan lama-lama, kembalikan lagi pada Titik NOL. Sakmadyo”.

Hijab-hijab Fitrah
Jiwa manusia memiliki kecenderungan Ilahiah. Fitrah jiwa yang selalu ingin berdekatan terus dengan Tuhannya, senantiasa kangen, juga tunduk pada aturan Allah, merdeka dari nafsu, ego dan emosi yang melampaui batas.
Sebagaimana Firman Allah ".. tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah di dalam hati, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah yang mengikuti jalan yang lurus, sebagai karunia dan nikmat dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS Al Hujarat [49]: 7-8)

Yang membuat fitrah jiwa ”ngumpet” menjadi hijab-hijab yang membuat manusia jauh dari Tuhannya diantaranya disebabkan oleh: Buruknya pengetahuan tentang diri dan tentang Allah (Su'ul Makrifat), tiga-serangkai: Nafsu, Ego dan Emosi (NEE) yang melekati jiwanya, NEE yang mencintai hal-hal duniawi secara berlebihan.

Selamat Iedul Fitri ya kang? Weeks.. Bagaimana saya bersikap terhadap ucapan selamat itu?

Yuuk mari kita introspeksi diri, muhasabah diri, apakah kita layak mendapatkan ucapan selamat itu? Jika tidak layak, anggap saja ”ledekan” itu sebagai cambuk untuk berbenah hati menuju fitrah diri.


Wa Allahu a’lam.

Salam
Abet

Selasa, 06 Oktober 2009

Fisika Modern Bersua Sufisme

Artikel berikut adalah buah pemikiran Doktor Muhammad Hikam, Staf Pengajar Fisika FMIPA Universitas Indonesia dan Penelaah Naqshbandi-Haqqani.

Dalam artikel ini ada paparan tentang konsep participating observer dalam ilmu Fisika Kuantum. Ini sangat menarik. Walau saya belum mampu mengungkapnya menjadi sebuah ”bukti”, ”intuisi” saya menyatakan: teori ini bisa menjelaskan fenomena / kejadian supra-natural, kejadian yang disebabkan dari Dimensi Alam Energi, yang ujung-ujungnya bisa menyentuh dunia Sufisme, dan dunia spiritualisme pada umumnya.

Pemuatan artikel ini disini sudah seijin beliau. Monggo ditelaah. Jika ada pertanyaan tentang Fisika Quantum.. harap langsung kepada beliau.. Saya RDB - Ra Dong Blas.. hehehe. Salam.


Fisika Modern Bersua Sufisme

Judul ini bisa langsung digugat: apa mungkin mengkaitkan Sufisme dan Fisika Modern? Sufisme atau tasawuf biasanya dikaitkan dengan tazkiyat al nafs (mensucikan diri), ishlah al qalb (pembersihkan hati) dari akhlak-akhlak tercela, pendekatan diri kepada Tuhan serta kehidupan spiritual lainnya. Sementara Fisika merupakan ilmu modern untuk menerangkan interaksi antara energi dan materi mulai dari partikel-partikel elementer seperti quark, elektron, dan proton sampai benda-benda makroskopis seperti bintang dan galaksi. Fisika berkaitan dengan materi yang tangible (dapat dipegang) atau hal-hal yang dapat diterangkan secara rasional.

Titik kontras yang lain adalah pandangan awam bahwa belajar tasawuf atau menjadi sufi sering disalahartikan sebagai suatu bentuk kehidupan yang egoistik. Untuk mencapai tujuan, seorang sufi dipersepsikan musti meninggalkan kehidupan material keduniaan, meninggalkan keramaian, mengasingkan diri dari pergaulan manusia, bahkan sampai ekstrimnya berhubungan dengan manusia hanya akan menganggu dirinya untuk bercengkerama dengan Tuhan. Sementara untuk belajar Fisika, yang pertama kali dihadapi adalah benda yang ditemui sehari-hari, dan kemudian dilihat sifat dan perilaku material, serta kemudian dilakukan percobaan atau pengamatan di laboratorium atau di lapangan sehingga ditemukan hukum-hukum Fisika yang obyektif, dapat diulang dan konsisten. Hal-hal yang bersifat spiritual atau yang tidak rasional harus ditinggalkan di Fisika. Belajar Fisika dapat dilakukan oleh semua orang pada semua jenjang, namun untuk belajar menjadi sufi seseorang harus melewati suatu maqam-maqam tertentu yang tidak mudah.

Sekilas tampak sekali susah mencari titik temu antara keduanya, perbedaan-perbedaan tersebut terjadi makin jelas antara Fisika klasik (Newtonian) dengan praktek-praktek yang tampak dari luar dari Sufisme. Namun dalam tatanan Fisika modern dan filosofi Sufisme ternyata terjadi banyak kemiripan. Sebagai contoh: bahasa yang digunakan Fisika modern dan Sufisme merupakan bahasa metafora. Hal ini merujuk kepada suatu realitas yang lebih dalam, pada hal-hal yang tidak dapat diterangkan, paradoks dan yang tidak masuk akal. Penjelasan metafora untuk menyatakan misteri yang tersembunyi dari realitas metafisik dan energi-energi di luar pemahaman manusia.

Sebelum masuk lebih jauh pada kaitan sufisme dan Fisika modern, ada baiknya gambaran tentang Fisika klasik kita lihat kembali. Konsep filosofis Fisika klasik adalah analitik, mekanistik dan deterministik. Bahkan cenderung reduksionis untuk mengambarkan alam semesta mengikuti filosofi Descartes dan Bacon. Dalam Fisika Newtonian ini semua fenomena yang ada di semesta dapat diurai secara analitik berdasarkan hukum-hukum Fisika yang pasti. Pada dasarnya apabila kondisi awal suatu keadaan diketahui dan semua medan gaya yang berpengaruh diperhitungankan maka perilaku suatu benda (posisi dan momentum) untuk waktu berikutnya dapat ditentukan. Hukum Fisika ini dapat diterapkan mulai dari hal sederhana seperti benda jatuh bebas sampai perhitungan posisi planet-planet dalam tatasurya. Salah satu contoh yang menakjubkan dari hasil perhitungan Fisika Newtonian ini adalah ramalan tentang waktu gerhana bulan atau matahari sampai dalam orde detik dan ternyata cocok dengan hasil pengamatan.

Tidak dapat disangkal bahwa cara berpikir Fisika klasik ini telah memicu kemajuan teknologi yang dimulai dengan revolusi industri di Eropa. Mesin-mesin dirancang dengan disain yang berdasarkan perhitungan analitik-mekanistik yang pasti. Dan dalam tatanan filosofi, alam semesta merupakan mesin raksasa yang berputar secara terus-menerus dan dapat diprediksi. Disini hal-hal yang berbau mistik seperti peran dewa-dewa, roh nenek moyang, kekuatan supranatural, dan mahluk halus tidak ada lagi dalam hidup manusia. Bahkan Tuhan pun cenderung untuk dinihilkan. Kalaupun Tuhan dianggap ada, maka peran Tuhan sudah sangat direduksi sebagai sekedar pencipta awal, dan kemudian alam “ditinggalkan” untuk berputar sendiri setelah dilengkapi dengan hukum-hukum Fisika.

Kesuksesan Fisika Newtonian ternyata hanya berlaku pada dunia makroskopis, dunia kasat mata dan pada benda yang bergerak dengan kecepatan jauh di bawah kecepatan cahaya. Di awal abad ke dua puluh, Fisika klasik terbukti gagal untuk menjelaskan fenomena mikroskopik pada skala atom. Seolah-olah ada revisi edisi ulang ilmu Fisika, muncullah dua cabang ilmu Fisika Modern yaitu Fisika Kuantum yang dibidani oleh Bohr, Heisenberg, Schrödinger dan lain-lain, dan Teori Relativitas yang diungkapkan Einstein.

Fisika Kuantum mempunyai implikasi yang sangat luas pada perubahan peradaban manusia. Penjelasan tentang atom, molekul dan zat padat telah melahirkan material semikonduktor, laser dan chips mikroskopis yang pada gilirannya menghasilkan akselerasi kemajuan di bidang teknologi dan informasi. Sementara Teori relativitas Einstein dapat ditarik untuk menerangkan kosmologi tentang asal usul semesta, disini diperoleh gambaran bahwa alam semesta berasal dari suatu titik big bang (dentuman besar) dan berkembang serta berekspansi secara terus menerus.

Implikasi filosofis Fisika Kuantum lebih dahsyat, diantaranya tentang prinsip ketidakpastian Heisenberg dan participating observer (hasil eksperimen selalu tergantung pada pengamat dan suatu realitas tidak akan terjadi sebelum kita benar-benar mengamatinya). Dalam dunia sub-atomik, hukum Fisika tidak lagi merupakan suatu kepastian, tetapi gerak partikel diatur oleh konsep probabilitas. Pandangan terakhir ini yang menyangkut indeterminisme menimbulkan kontroversi yang cukup ramai.

Dalam teori Kuantum setiap keadaan partikel (posisi, momentum, energi dst.) dihubungkan berdasarkan suatu eksperimen. Ketika formulasi telah dirumuskan maka perilaku partikel dapat diprediksi. Schrödinger menunjukkan bahwa perilaku partikel dapat ditunjukkan oleh sebuah persamaan matematis gelombang. Namun persamaan ini tidak memberi informasi apa-pun tentang keadaan partikel sebelum suatu eksperimen benar-benar dilakukan, dengan perkataan lain persamaan tersebut meramalkan dua hasil kemungkinan secara sepadan. Dalam percobaan celah ganda, tampak bahwa hasil pengamatan tergantung kepada cara eksperimen dilakukan. Partikel tersebut tidak punya sifat “asli”.

Oleh para Fisikawan konsekuensi indeterminisme ini biasanya dilukiskan secara dramatis dalam sebuah “eksperimen” yang dikenal dengan kucing Schrodinger (Dewitt, 1970). Kucing ini bisa dalam dua keadaan skizofrenik sekaligus yaitu hidup dan mati. Tentu saja semua ini merupakan bahasa metafora dari ketidakmampuan fisikawan untuk menerangkan keadaan “yang sesungguhnya” terjadi. Namun hal tersebut seperti keadaan partikel yang bisa sekaligus gelombang merupakan konsekuensi pengembangan teori Kuantum.

Albert Einstein sendiri sangat tidak nyaman dengan konsekuensi terakhir ini. Meskipun pada masa mudanya Einstein turut serta dalam membangun teori Kuantum (pada kasus efek fotolistrik) namun Einstein tua justru merupakan seorang penentang konsekuensi filosofis teori Kuantum, sampai-sampai dia berucap “Tuhan tidak bermain dadu”. Dalam debat melawan Bohr dan kawan-kawan, argumentasi Einstein tentang determinisme selalu dapat dipatahkan. Sehingga sampai saat ini teori Kuantum yang meskipun “agak edan” tetapi terbukti merupakan teori yang dapat menerangkan dunia mikroskopis dan mempunyai manfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih jauh tentang konsep participating observer, pola hasil yang akan diperoleh dalam suatu eksperimen sangat ditentukan oleh pengamat atau dengan perkataan pengamat menentukan hasil. Ini bukan penelitian sosial tetapi penelitian tentang materi sub-atomik. Lebih jauh lagi sesuatu benda mikro tidak punya makna apa-apa sebelum benar-benar diamati. Oleh karena itu diperlukan suatu mahluk yang memiliki kesadaran (consciousness) untuk menjadikan sesuatu benda menjadi “real”. Tanpa pengamat, maka semesta ini tidak akan ada.

Disini mulai jelas titik singgung antara Fisika modern dengan sufisme atau mistisisme Timur lainnya. Kita dapat lihat dari salah satu potongan syair Rumi:

"Aku adalah kehidupan dari yang kucintai
Tempatku tanpa tempat, jejakku tanpa jejak,
Bukan raga atau jiwa; semua adalah kehidupan dari yang kucintai".

Juga kita dapat lihat pendapat Ibnu Arabi dalam Fushush al-Hikam:

"Kosmos berdiri diantara alam dan al Haqq, dan antara wujud dan non eksisteni. Ia bukan murni wujud dan bukan murni non-eksistensi. Maka dari itu kosmos sepenuhnya tipuan, dan kalian membayangkan bahwa ini al Haqq, namun sebetulnya bukan al Haqq. Dan kalian membayangkan bahwa ini makhluk, namun ini bukan makhluk".

Bahasa Rumi “Tempatku tanpa tempat, jejakku tanpa jejak” atau ungkapan Ibnu Arabi tersebut sangat memiliki kemiripan dengan Mekanika Kuantum yang juga mengungkapkan tentang “hidup yang juga mati, mati yang juga hidup”. Jelas sekali bahasa metafora yang digunakan disini.

Selanjutnya dalam kerangka teori relativitas juga dimungkinkan dibuat suatu kerucut ruang-waktu: masa lalu, masa sekarang dan masa mendatang. Dalam hal ini –secara matematik– ada bagian yang berada di luar kerucut ruang waktu ini, sehingga dapat dikatakan di luar dunia fisik ini yang kita tempati ini masih ada kemungkinan “dunia lain”. Hal ini juga didukung oleh teori Kuantum yang menawarkan many worlds interpretation atau interpretasi banyak dunia yang diungkapkan oleh Everett pada tahun 1957. Artinya alam semesta yang kita tempati ini bukan satu-satunya. Hal ini serupa dengan yang dikatakan oleh Rumi tentang hati yang bisa menuju ke “Pintu-pintu ke dunia lain.”

Rumi menulis dalam puisi yang lain “Sang Sufi bermi'raj ke 'Arsy dalam sekejap, sang zahid membutuhkan waktu sebulan untuk sehari perjalanan.” Meskipun puisi ini sedikit menunjukkan nada yang agak sombong dari Sang Sufi, namun jelas menunjukkan adanya keserupaan dengan konsep relativitas pada Fisika modern.

Para ahli astrofisika modern telah menghitung bahwa setidaknya ada 15 trilyun galaksi sejak permulaan penciptaan —big bang— dan galaksi-galaksi tersebut dalam kosmos mengikuti suatu siklus seperti yang dijelaskan oleh sufi yaitu kelahiran, pertumbuhan, kematian dan pembangkitan kembali. Bintang-bintang, seperti manusia, tidak pernah sebenarnya mati, namun beberapa bahan dasar seperti besi, karbon, oksigen dan nitrogen secara terus-menerus didaur-ulang dalam ruang sebagai debu kosmis, bintang baru, tanaman dan kehidupan. Semua dalam alam semesta yang berekspansi terdiri dari energi, dan energi secara sederhana berubah dari suatu keadaan ke keadaan lain untuk selanjutnya naik menuju (cosmic ascent) kepada Allah.

Pencarian padanan antara sufisme dan Fisika modern dapat terus dilakukan terutama dalam masalah yang berkaitan dengan semesta lain, dunia ghoib, pengkerutan waktu, ketidakpastian, “hidup tetapi mati”, kesadaran dapat mempengaruhi materi, “ada tetapi tidak ada”, siklus kehidupan dan asal usul semesta.

Beberapa hal dapat dengan mudah dapat dicerna, namun lebih banyak lagi yang merupakan bahasa metafora karena susahnya menuliskan realitas yang sesungguhnya. Mungkinkah kesulitan ini karena keterbatasan bahasa manusia atau keterbatasan kemampuan logis manusia? Atau semua ini merupakan harta tersembunyi sebagaimana yang diungkapkan oleh sebuah hadist qudsi: Allah telah berkata “Aku adalah harta tersembunyi yang perlu disingkap, Aku ciptakan semesta sehingga Aku dapat diketahui”

Kita biarkan pertanyaan ini menjadi pertanyaan yang tidak terjawab, namun mengikuti “semangat teori Kuantum” yang maju terus memberikan kontribusi penting pada peradaban manusia meskipun telah meninggalkan Einstein dalam kegelisahan interpretasi. Adakah sekarang manfaat praktis yang dapat ditarik dari mengkaitkan sufisme dan Fisika modern?

Sudah saatnya para fisikawan mempelajari istilah yang sudah biasa di Fisika namun merujuk pada entitas yang berbeda dalam sufisme, yaitu energi. Di Fisika, istilah energi menunjukkan suatu besaran yang sangat real, sementara di sufisme istilah ini lebih abstrak. Para ahli sufi sebenarnya meminjam istilah ini karena ada keserupaan, meskipun pada dasarnya berbeda. Sudah beratus-ratus tahun terbukti secara empiris bahwa para ahli sufi mampu menggunakan suatu jenis energi metafisik yang berasal dari Yang Maha Kuasa untuk berbagai keperluan seperti penyembuhan sakit fisik dan non fisik. Para ahli sufi sendiri sebenarnya tidak mengerti bagaimana proses penyembuhan ini terjadi kecuali dengan sepenuhnya melakukan kepasrahan kepada Allah SWT. Disini fisikawan dapat melakukan penjelasan hal ini karena memang dimungkinkan dalam teori Kuantum bahwa kesadaran dapat mempengaruhi materi (mind over matter).

Hal ini hanya merupakan salah satu contoh manfaat real untuk kemanusiaan. Akan muncul sekali banyak manfaat bila dilakukan eksplorasi secara seksama hubungan antara sufisme dan Fisika modern.

Wallahu a’lam bishawab.

Muhammad Hikam Staf Pengajar Fisika FMIPA Universitas Indonesia dan Penelaah Naqshbandi-Haqqani