Rabu, 25 Mei 2011

The X-Law, Jabariah dan Qadariah (2)

Hukum X dan ”Pertentangan” Dalam Al Qur’an
Orang yang Tidak Percaya adanya Allah, Tuhan Yang Maha Esa, tidak akan bisa mengerti, memahami babar-blas firman Allah yang tertulis dalam Al Qur’an.

Meskipun dijelaskan, dipaparkan dengan panjang-lebar dan tinggi, sampai jungkir-balik oleh banyak orang yang banyak paham sekalipun, tidak bakalan mereka memahami sedikitpun. Sebab bagi mereka, Allah merupakan hasil konsepsi, imajinasi pemikiran manusia saja.

Jadi, bagaimana mungkin orang yang tidak percaya adanya Allah, diceritakan tentang Allah?. Bagaimana mungkin orang yang tidak percaya adanya Allah, diceritakan tentang surga dan neraka? Tentang dosa dan pahala? Tentang jin dan malaikat? Bahkan tentang Jiwa dan Ruh manusia sendiri?

Jika tidak percaya akan Allah dan semua itu, bagaimana mungkin mereka bisa percaya terhadap Al Qur’an meski hanya sedikit? Yang mungkin terjadi adalah mereka akan membuang jauh-jauh petunjuk itu, bahkan sangat mungkin disertai olok-olokan terhadap firman-firman Allah tersebut.

Saya sepakat dengan pendapat yang menyatakan, hanya Yang Maha Suci yang bisa secara full 100% memahami makna tertinggi dari ayat-ayat Al Qur’an. Al Qur’an yang berisi informasi dan petunjuk yang multi dimensi transedental (dimensi alam materi, alam energi, alam cahaya dan alam Ilahiah), tentulah hanya akan bisa dimengerti oleh pribadi yang telah memahami dimensi-dimensi itu pula. Dan pribadi mulia yang jelas-jelas telah bisa mencapai dimensi tertinggi adalah baginda Muhammad SAW kekasih Allah.
Kita yang mungkin baru seper-limabelas suci, atau seper-tiga suci, atau seper-berapa saja, pemahaman kita terhadap Al Qur’an akan mengikuti prosentase bobot kesucian kita.

Al Qur’an adalah kitab suci yang saya yakini benar-benar Benar. Tak ada keraguan sedikitpun di dalamnya. Jika ada yang sepertinya tidak masuk akal, atau seperti banyak kontradiksi – pertentangan di dalamnya, itu karena saya sendiri yang belum mengerti, akal saya belum ’nyampe’, dan memang masih buaaaanyak sekali yang belum saya pahami. Maklumlah kitab suci ini kitab transedental dengan bahasan yang sangat amat luuu-aaaaas... tentang alam materi hingga alam ilahiah. Boro-boro memahami alam energi atau alam cahaya, alam materi saja sedikiiiit sekali yang saya ketahui.

Saya yang masih banyak kotor dan sering berbuat kotor ini, tentunya sulit untuk memahaminya. Karena untuk bisa memahami Al Qur’an, hingga bisa mengenal diri ini dan Allah Tuhan-Ku, saya harus melakukan pembersihan diri yang terus-menerus.

Bicara tentang 'kontradiksi' Al Qur’an, Allah sendiri telah memustahilkan adanya pertentangan-pertentangan tersebut dalam Al Qur’an, sebagaimana ditegaskan dalam Surat An-Nisa' Ayat 82:
”Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur'an? Jika sekiranya Al-Qur'an bukan dari sisi Allah tentulah mereka mendapatkan perten¬tangan-pertentangan yang banyak di dalamnya”. (QS An-Nisa': 82).
Jika kita hanya berpedoman pada ayat yang kita pahami saja, dan mengabaikan ayat lain yang belum kita pahami, maka sangat mungkin kita menganggap terdapat pertentangan antar ayat-ayat dalam Qur’an. Sebagai contoh yang bisa dianggap bertentangan dalam Al Qur’an:
  • Orang beriman dilarang bersekutu minta bantuan kepada jin, yang dapat menyebabkannya jatuh musryik. Namun dilain pihak, kita dapat membaca cerita tentang nabi Sulaiman yang mempekerjakan banyak jin untuk pembangunan kerajaannya. Jin Ifrit adalah salah-satu makhluk yang pernah dimintanya memindahkan singgasana Ratu Bilqis, meski akhirnya dipindahkan oleh seorang ahli kitab. Apakah nabi Sulaiman termasuk orang yang musryik? Tentu Tidak. Nabi Sulaiman Tidak Musrik
  • Membunuh, menghilangkan nyawa orang tak berdosa adalah perbuatan yang dzalim, tetapi nabi Khidir melakukan pembunuhan terhadap seorang anak kecil tak berdosa.

Selain contoh tersebut, Qadariyah dan Jabariyah, paham yang saling bertentangan, masing-masing mendapat dukungan ayat-ayat Al-Qur'an. Mengapa bisa demikian? Apakah itu berarti ada pertentangan dalam Al-Qur'an?. Tentu tidak.
 
Berdasarkan teori Hukum X, dapat dilihat bahwa kedua pemahaman tersebut sama sekali tidak bertentangan dengan al Qur’an, keduanya justru sesuai dengan Al Qur’an. Coba kita perhatikan ayat-ayat yang mendukung kedua pemahaman yang bertentangan tersebut.
 
Ayat-ayat yang mendukung pada paham Jabariyah, antara lain:
”Bukanlah engkau yang melontar ketika engkau melontar (musuh), tetapi Allahlah yang melontar (mereka)”. (QS. al-Anfal: 17),
”Kamu tidak menghendaki, kecuali Allah menghendaki”. (Q.S. al-lnsan: 30).
”Mereka sebenarnya tidak percaya sekiranya Allah tidak menghendaki”. (QS. al-An'am: 112).
”Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh al-Mahfu^) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kamijelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira (yang melampaui batas dan menyebabkan kesombongan) terhadap apa yang diberikannya ke-padamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (QS :Al-Hadid: 22-23)
Dan ayat-ayat yang mendukung pada paham Qadariyah, dapat dicontohkan pada ayat berikut:
”Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”. QS Ar-ra’d (13):11.
Contoh-contoh ayat Jabr yang menggambarkan ”ketidakberdayaan manusia” jelas pertentangan dengan ayat-ayat qadar yang mencerminkan manusia sebagai makhluk yang harus bertanggung jawab atas segala perilaku dan perbuatannya. Ayat Al hadid 22-23 jelas sekali bertentangan dengan ayat Ar-Ra’d:11.


Sesuai ilustrasi disamping, ayat-ayat Jabr berlaku di sepanjang garis hijau, garis Ke-iman-an:
Semakin tinggi level keimanan seseorang semakin berlaku ayat tersebut dan semakin rendah keimanan seseorang semakin tidak berlaku ayat-ayat tersebut.


Ayat-ayat Qadr berlaku disepanjang garis hitam, garis Ke-aku-an:
Semakin tinggi level keakuan (ego) seseorang semakin berlaku ayat tersebut dan semakin rendah keakuan seseorang semakin tidak berlaku ayat-ayat Qadr tersebut.

Siapa penganut paham Jabariah?
Jika saya yang baru 15% beriman ini (eheem.. ) menganggap bahwa seluruh kejadian yang menimpa saya karena kehendak-Nya, maka menurut saya, saya keliru besar. Karena kejadian-kejadian yang muncul menimpa diri saya, adalah akibat dari tindakan bodoh (ketidak-tahuan) yang telah saya lakukan sendiri. Saya masih menduga-duga dan memperturutkan hasrat, emosi dan prasangka semata. Seolah-olah saya mendengar sebuah petunjuk, seolah-olah saya mengikuti insting dorongan hati yang dalam, padahal dorongan itu berasal dari emosi, hasrat, nafsu dan ketidak-tahuan saya saja, dan besar kemungkinan berasal dari setan. Jika demikian, saya bukan penganut Jabariah melainkan penganut Fatalism. Hidup dalam kekonyolan.

Jadi???? Mari lebih tekun dan serius bersihkan diri, sucikan hati.. insya Allah kita akan mendapatkan pemahaman-pemahaman yang lebih lengkap. Man jada wa jadda.

Allahua'lam bishawab.

Salam
Abet the sotoy

Selasa, 10 Mei 2011

The X-Law, Jabariah dan Qadariah (1)

Jabariah dan Qadariah adalah dua aliran teologi Islam yang berbeda pendapat dalam menyikapi Qada dan Qadar.
Jabariah berpandangan bahwa manusia tidak memiliki kehendak bebas dalam hidupnya dan segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak Allah SWT semata. Pandangan yang cenderung membuat hidup sudah ditentukan oleh Allah.
Sebaliknya, Qadariah berpandangan bahwa Allah memberikan kebebasan pada manusia untuk menentukan hidupnya. Oleh karena itu, apapun yang diperbuat oleh manusia adalah berkat usaha dan kemampuannya sendiri serta tidak ada lagi campur tangan Allah didalamnya.

Bagaimana kita eh.. saya menyikapi dua aliran yang bertolak belakang ini?
Jika kita berpihak pada pendapat bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak Allah SWT semata, maka ternyata manusia juga diberi free will dimana kita bisa memilih untuk fujur atau taqwa.
Namun jika kita berpihak pada pandangan bahwa Allah memberikan kebebasan sepenuhnya kepada manusia untuk menentukan hidupnya (free will), maka kita akan terbentur pada beberapa petunjuk / firman Allah yang menyatakan sebaliknya.

Jadi mana yang benar?
Jika saya yang ditanya, maka jawaban saya: Dua-duanya betul dan dua-duanya bisa salah. Lho kok??? Kedua konsepsi ini (menurut saya) jelas bertentangan, namun (menurut pemahaman saya lagi), kedua pemahaman ini benar pada posisinya masing-masing. Artinya, setiap insan pada posisi pemahaman, dan keimanan, yang berbeda-beda akan berpihak pada pemahaman yang sesuai: Qadariah, Jabariah, atau diantaranya. Hal tersebut bisa terjadi karena adanya Hukum X.


The X-Law
Mari kita lihat ilustrasi Hukum X berikut ini, barangkali bisa menjelaskan fenomena tersebut:



Dalam kehidupan spiritual (agama) di dunia ini ada 2 (dua) kelompok ekstrim yang saling berseberangan, yaitu kelompok yang sangat-amat percaya adanya Allah disatu sisi dan kelompok yang sangat-amat ingkar adanya Tuhan Yang Maha Esa di sisi yang berseberangan. Mereka memiliki argumentasi masing-masing untuk mempertahankan keyakinannya.

Orang-orang yang beriman, mereka berkeyakinan, haqqul-yakin bahwa yang membuat mereka hidup adalah Allah.
Mereka bisa paham karena Allah memberikan pemahaman itu.
Mereka bisa berkuasa karena Allah lah yang menghendaki.

Mereka tidak pernah meng-Aku-i semua kehebatan yang ada pada diri mereka. Dengan kata lain, tingkat ke-iman-an dan kepasrahan mereka tinggi sekali (absolute surrender), tanpa reserve.

Sebaliknya yang terjadi pada orang-orang yang tidak percaya adanya Allah, sama-sekali tidak percaya Tuhan yang Maha Esa, mereka memiliki ke-aku-an yang sangat tinggi. Aku bisa berpikir dan cerdas karena aku sendiri. Aku bisa bergerak karena daya diriku sendiri. Aku bisa kaya dan berkuasa karena aku sendiri.

Ilustrasi diatas memperlihatkan grafik Ke-iman-an (warna hijau) yang berbanding terbalik dengan  Ke-Aku-an (warna hitam) yang membentuk persilangan. Itulah yang saya maksud sebagai the X-Law. (Maksudnya: Saya cuma ngarang-ngarang Hukum X ini .... hehehe).

Catatan: Ilustrasi Hukum X diatas berdasarkan kira-kira saja alias ngawur, karena tidak mungkin bagi saya untuk menjadikan orang sak’ndonya sebagai responden.

Berdasar ilustrasi tersebut, umat manusia saya kelompokkan ke dalam 5 kelompok besar.
Kelompok A: 0% (Nol Persen) Beriman.
Kelompok B: 100% (Seratus Persen) Beriman.
Kelompok C: Kelompok tengah-tengah, bisa dikatakan 50% percaya, 50% tidak percaya.
Kelompok D:Ke-iman-annya jauh lebih kecil dibanding rasa tidak percayanya.Perkiraan kasarnya: 75% tidak percaya. X 25% Percaya.
Kelompok E: Ke-iman-an-nya jauh lebih besar daripada ketidak percayaannya. Perkiraan kasarnya: 75% Percaya X 25% Tidak Percaya.

Mari kita telaah the X-Law Phenomenom ini lebih lanjut. Tapi Ingat ini hanya pemahaman saya saja lhooo!!! terlarang untuk dipercaya, musrik.. apalagi ditelan bulat-bulat.. bisa keselek .. hehehe.. Anda harus memahaminya dulu untuk menyatakan percaya atau menolak.

Kelompok A: 0% (Nol Persen) Beriman
Kelompok A, dapat dibagi lagi menjadi 2 sub-kelompok besar:
1. Tidak percaya adanya Allah dan tidak percaya adanya alam lain (ghaib) di balik alam materi.
2. Tidak percaya adanya Allah namun percaya adanya alam lain (ghaib) di balik alam materi.

Sub-Kelompok A.1: Orang yang 100% tidak percaya adanya Allah, dan kekuatan apapun diluar alam materi, akan menganggap bahwa segala kekuatan, kemampuan, kecerdasan yang melekat pada dirinya semata-mata karena dirinya sendiri. Lebih sempit lagi: daya dan kekuatan tubuh fisiknya. Kekuatan dibalik alam materi mereka anggap omong-kosong, kegilaan.
Jika mereka menjadi ilmuwan, segala ilmu mereka batasi hanya dalam lingkup alam materi saja, diluar alam materi akan mereka kesampingkan dan mereka akan terus-menerus mencari sebab & akibat dalam lingkup alam materi. Tak heran jika sudah mentok, mereka berkesimpulan macam begini:
- Alam semesta terjadi dengan sendirinya, kebetulan.
- Manusia merupakan turunan monyet.
- Manusia (tubuh manusia) bisa hidup semata-mata karena proses kimiawi tubuh, tidak ada unsur lain yang menghidupkan.
- Pikiran dilihat semata-mata hanya proses kimia biologis di otak.

 Contoh yang bisa saya ketengahkan disini adalah Michael Persinger yang mempopulerkan Godspot, titik tuhan yang adanya dikepala – ditengah-tengah otak. Padahal sebagai orang beriman, kita diajarkan bahwa titik Tuhan itu adanya dimana-mana. Dimana kita menghadap disitu ada titik Tuhan.
Berikut, satu cuplikan yang saya ambil dari sebuah situs (mohon maaf, lupa alamat situsnya) tentang aktifitas penelitian Persinger:
Persinger was asked if his work leads him to conclude that "God," or the experience of God, is solely the creation of brain-wave activity.
"My point of view is, 'Let's measure it.' Let's keep an open mind and realize maybe there is no God; maybe there might be," says Persinger. "We're not going to answer it by arguments — we're going to answer it by measurement and understanding the areas of the brain that generate the experience and the patterns that experimentally produce it in the laboratory."

Sungguh pernyataan yang ‘lucu’ karena alat-ukur, perangkat penelitian yang dipakai Persinger adalah benda yang terbuat dari materi, yang tidak memiliki kemampuan untuk melihat benda-benda non-materi. Tidak sanggup untuk melihat hal-hal yang gaib pada level paling rendah sekalipun, apalagi untuk melihat Tuhan Yang Maha Ghaib dan Maha Tinggi. Jika ‘melihat’ (mendeteksi) saja tidak mampu, bagaimana bisa membuktikan?
Meski demikian, banyak nilai positif yang bisa kita manfaatkan dari penelitian mereka. Hasil iqro’ mereka terhadap hukum-hukum Allah – sunnatullah, membuat mereka menjadi paham-betul hukum-hukum yang berlaku di alam materi. Hukum-hukum alam yang mereka gali dan manfaatkan itulah yang menyebabkan peradaban manusia memasuki zaman keemasannya seperti saat ini.

Sub-Kelompok A.2: Kelompok ini tidak percaya adanya Allah namun percaya adanya alam lain (ghaib) di balik alam materi. Mereka bisa saja mencapai kesadaran-kesadaran diluar kesadaran fisik, memiliki daya-linuwih, namun mereka tetap tidak percaya adanya Tuhan Yang Maha Mengetahui. Banyak bukan yang masuk sub-kelompok seperti ini?

Kelompok B: 100% (Seratus Persen) Beriman
Orang yang 100% beriman, berbuat apapun sekecil apapun, sesuai petunjukNya. Mereka mendapat petunjuk untuk setiap langkah yang harus mereka jalani. Mereka tidak lagi mengandalkan pikirannya untuk menjalani hari-hari mereka. Tak sedikitpun mereka mengedepankan keinginannya (baca: nafsu, hasrat, dan emosinya - NHE). Jalan hidupnya telah sepenuhnya mereka jalani atas petunjuk Allah. Itulah sebabnya mereka terlihat sangat yakin, haqqul-yakin sepenuhnya. Meski kita tahu, perintah Allah itu tidak masuk akal bagi orang-orang yang belum 100% beriman.

Sebagai contoh ketika nabi Ibrahim menjalankan perintah Allah untuk menyembelih putra kesayangannya dengan ketaatan dan kesabaran tinggi. Mungkin orang-orang yang melihat ”kelakuan” nabi Ibrahim pada waktu itu, akan berkomentar begini:
”Aneh tuh orang tua.. masa Cuma mimpi saja, diyakini perintah dari Allah. Menyembelih anak lageee???” Bagaimana jika mimpi itu datangnya dari setan coba???

Orang awam seperti kita, mungkin tidak paham bahwa perintah Allah yang ”luar-biasa” seperti menyembelih anak, tidak akan diberikan kepada orang-orang yang tidak 100% beriman. Jadi, jika ada orang gila yang menggorok orang-lain dengan pengakuan itu adalah perintah Tuhan, maka kita wajib tidak percaya.

Contoh lain yang menunjukkan ketaqwaan nabi Ibrahim adalah ketika beliau diminta untuk meninggalkan anak dan istrinya, di padang gersang tanpa bekal apa-apa. Bagi orang yang mengaku punya logika rasional yang waras macam kita, mungkin akan protes: ”Ninggalin mereka di padang tandus? Kalau kelaparan, kehausan terus mati gimana? Kelewatan tuh.. nggak mungkin perintah Tuhan begitu?” pake akalnya dong?"
Tapi kenyataannya, baginda nabi Ibrahim melaksanakan perintah itu dengan penuh keyakinan dan ketaatan. Samikna wa atokna.

Kedua contoh di atas dapat kita ambil hikmahnya:
- Nabi Ibrahim, meski terkenal sebagai pribadi yang cerdas senang berpikir, beliau tidak lagi menggunakan akal-pikirannya ketika menjalankan perintah Allah. Beliau menyadari, akal pikiran sangat terbatas daya, kekuatan dan pengetahuannya.
- Perintah Allah banyak yang tidak / belum dapat dijangkau oleh akal-pikiran kita. Semakin beriman, semakin banyak perintah Nya yang bisa dipahami. Semakin tidak beriman semakin banyak perintah-Nya yang dirasa tidak masuk akal.
- Allah senantiasa memberikan petunjuk bagi orang-orang yang dekat, yang beriman kepada-Nya.

Jika kita ingat atau baca kembali kisah para Nabi, banyak perintah dan petunjuk dari Allah yang mereka terima yang tidak masuk akal-sehat kita, bahkan mungkin akal sehat mereka. Ingat kisah nabi Musa yang ngangsu kaweruh kepada nabi Khidir?
Dalam perjalanan kenabian mereka, banyak pula kejadian-kejadian yang tidak sesuai dengan hukum alam (materi) yang mereka temui, semua itu membuktikan keberadaan nyata Allah Yang Maha Ghaib yang menambah keyakinan mereka.
Adakah orang yang beriman yang masih memperturutkan ’Ke-aku-an’nya? Rasa-rasanya tidak ada, walau mereka tetap bekerja, berpikir dan beraktifitas, segala tindakan yang mereka lakukan adalah berdasar petunjuk Allah. Bukan memperturutkan Nafsu, Hasrat, Emosi dan pikiran mereka saja, atau ketidaktahuan mereka, atau persangkaan mereka belaka. Mereka benar-benar menjalani kehidupan berdasar petunjuk.
Seperti apa petunjuk bagi orang beriman? Petunjuk ya petunjuk, sebuah pengarahan yang langsung dihujamkan ke dalam hati mereka. Atas dasar itulah mereka beraktifitas. Kadang kita dengar mereka adalah orang-orang yang ”weruh sakderengipun winarah”.

Bandingkan dengan orang-orang yang tidak beriman, yang di-drive oleh NHE dan pikiran mereka. Mereka bisa menghalalkan segala cara, yang intinya pengumbaran NHE, untuk meraih apa yang mereka inginkan. Sebagai konsekwensinya, stress, depresi, stroke, menjadi penyakit yang umum diderita bagi mereka yang tidak beriman ini.

Bisakah orang-orang beriman menolak petunjuk Allah? Ya bisa saja, bukankah mereka juga masih memiliki option: mau fujur atau taqwa? tapi sepertinya beliau-beliau sudah kadung meng-OFF-kan pilihan fujur-nya. Mereka committed untuk pasrah bongkok’an karena yakin Allah Maha Mengetahui yang terbaik untuk diri mereka. Terbaik tidak hanya dari aspek duniawi semata melainkan justru dari aspek akheratinya.
Mereka benar-benar berprinsip ”La hawla walaquwwata ila billah”. Absolute surrender. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali seluruhnya semata-mata daya dan kekuatan Allah. Daya dan kekuatan yang mengalir pada dirinya, adalah daya dan kekuatan NYA. Level ke-aku-an mereka 0%, tidak ada terbesit rasa sombong di hati mereka.
Kelompok A dan kelompok B adalah dua kelompok yang berseberangan. Kelompok tak beriman tidak akan mungkin memahami apa yang dipahami oleh kelompok orang-orang Beriman, namun sebaliknya kelompok orang Beriman sangat mungkin memahami apa yang dipahami oleh orang Tak Beriman.


Kelompok C dan D
Diantara dua kelompok tersebut ada kelompok-kelompok C dan D. Pemahaman mereka merupakan campuran pemahaman antara yang percaya dan yang tidak percaya, sesuai dengan posisinya yang berada diantara A dan B.
 
Kelompok C adalah Kelompok Tengah-tengah
Bisa dikatakan 50% percaya, 50% tidak percaya. Kadang berperilaku seperti orang beriman, kadang berperilaku tidak-beriman. Probabilitasnya 50:50. Keimanan mereka sangat tergantung dari ”angin” mana yang lebih kuat berhembus: angin dari setan atau angin malaikat yang mengajak kepada kebaikan. Labil.
Berada dibawah kelompok C ada kelompok D, dimana tingkat Ke-aku-an nya lebih-besar-dari Keimanannya.
 
Persamaan kelompok C dan D, mereka berprinsip bekerja keras, dan mereka yakin harus bekerja untuk menghidupi diri dan keluarganya. Mengutip dari sebuah artikel (saya lupa sumbernya, mohon maaf), Kelompok C dan D, juga A, sangat percaya bahwa Imbalan Jatuh Tak Jauh Dari Usaha. Tentunya dalam konteks dunia materi.
Kata sebuah pepatah, "Langit itu adil." Pasukan yang lebih gigih berperang, lebih gagah bertempur – tak peduli apakah mereka percaya atau tidak pada sang langit – akan meraih kemenangan.
Pengusaha yang lebih tekun bekerja, lebih giat berusaha - tak peduli apakah ia yakin atau tidak pada sang langit - akan memperoleh penghasilan. Hukum alam itu sederhana saja. Barang siapa mencelupkan jarinya ke air mendidih, mendapatkan lepuh.
Hukum kasualitas khususnya yang berlaku di alam materi itulah yang mereka percayai. Sehingga jika hanya sebatas angan-angan belaka, atau hanya karena merasa lebih percaya pada sang langit, dan berharap emas jatuh ke pangkuan begitu saja, maka sukar dan hampir mustahillah harapan itu terwujud.

Kelompok E

Kelompok E adalah kelompok yang Keimanannya lebih-besar-dari Ke-aku-an nya, mereka sangat percaya bahwa usaha duniawi harus diiringi dengan doa. Doa membantu mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Qada dan Qadar
Ada sedikit pertanyaan saya tentang Qada dan Qadar:
"Adakah orang yang tahu Qada’ dan Qadar yang tertulis di lauh-al Mahfu’?".
”Apakah ketetapan yang telah tertulis untuk jagad-raya, untuk tumbuhan, untuk selembar daun, dan untuk manusia? Apakah ketetapan untuk seluruh makhluk bersifat statis? Ataukah dinamis - bisa berubah karena sesuatu?”.
Tentunya kedua pertanyaan ini tidak bisa dijawab secara pasti.

Tapi barangkali saya yang sotoy ini boleh menduga-duga, jika ketetapan untuk manusia bersifat tetap, statis, tentunya manusia tidak diberi kebebasan memilih. Mereka akan berjalan pada ketetapan yang telah digariskan, seperti matahari dan bulan yang selalu tetap pada orbitnya. Andai matahari diberi pilihan: mau tunduk patuh terhadap kehendak Allah (sunatullah yang berupa hukum-hukum alam)? Atau mau nurut karepe-dewe? Tentunya kehidupan di bumi ini akan runyam jika matahari diberi pilihan.
Sebagai konsekwensi tak adanya pilihan fujur atau taqwa, surga dan neraka tidak perlu dijanjikan dan diancamkan untuknya. Alangkah tidak adilnya jika matahari yang tidak diberi pilihan akan mendapat siksa di neraka?
Sebaliknya, jika nasib dan segenap liku-liku hidup manusia telah ditetapkan, apalah gunanya manusia berdoa? jika ketetapan neraka bagi manusia telah ditetapkan, apalah gunanya bertaubat, memohon ampunan dan surga?.
Namun seperti kita ketahui, hanya manusia dan jin yang diberi kebebasan: mau fujur atau taqwa? Mau manut atau sak-enake udele dewe? Atas kebebasan tersebut, mereka kelak dimintai pertanggung-jawaban atas pilihannya.

Kisah Yang Sarat Hikmah
Ada dua kisah yang bisa kita ambil hikmahnya, kisah pertama bercerita tentang nabi Ibrahim yang tidak terbakar api, dan kisah kedua bercerita tentang orang yang meninggal karena musibah banjir.

Nabi Ibrahim Yang Tidak Terbakar Api
Nabi Ibrahim terkenal sebagai Nabi yang sangat lurus akidah tauhidnya. Beliau tidak mau meminta pertolongan kepada siapapun selain langsung kepada Allah. Dalam sebuah kesempatan, beliau ditangkap oleh raja namrud dan hendak dihukum bakar. Singkat cerita dalam kondisi tubuh yang telah terikat, diatas tumpukan kayu yang siap bakar, datanglah malaikat yang menawarkan pertolongan namun ditolaklah penawaran itu oleh beliau. Beliau hanya berharap pertolongan dari Allah saja, maka atas keteguhan iman, Allah menjadikan api menjadi dingin, beliau tidak terbakar.

Kisah Orang Yang Kebanjiran
Ada sebuah cerita fiktif tentang seseorang yang terkena banjir bandang (maaf saya lupa juga sumbernya). Inti ceritanya kira-kira demikian:
Berhubung rumahnya telah kemasukan air cukup tinggi, maka pak Fulan menyelamatkan diri ke atap rumah sambil terus berdoa supaya Tuhan menyelamatkannya.
Ketika air telah mencapai ketinggian atap, terdengarlah teriakan tetangga sedesanya yang menaiki rakit bambu:
”Haiiii pak Ful, ayo cepat naik ke rakitku, banjir semakin tinggiiiiii!!”
”Tidak terimakasih. Aku menunggu pertolongan dari Tuhaaaaan!!!!” jawab pak Ful. Maka berlalulah tetangganya.

Air semakin tinggi, atap rumah sudah hampir seluruhnya tenggelam, lalu datanglah tim SAR dengan perahu karetnya:
“Hai Pakkkk.. ayo cepat loncat ke siniiiii. Banjir ini semakin tinggiiiii!!!”
”Tidaaak, terimakasih. Saya menunggu pertolongan Tuhaaaaan!!!.” Jawab pak Ful mantab.
Banjirpun semakin meninggi, dan pak Ful tinggal terlihat kepalanya saja. Lalu datanglah helikopter tim SAR yang melayang mendekatinya.
”Haiii bapakkkk yang dibawahhh!!!! Cepattt raih tali dan ikatkan ke pinggang. Nanti kita tariiik”
”Tidak terimakasiiiiih!!!, saya menunggu pertolongan Tuhaaaaan!!!! Teriak pak Ful dengan sedikit ragu.

Berlalulah helikopter SAR dan pak Ful dikabarkan tidak selamat. Singkat cerita, sesampainya di akhirat, pak Ful protes dan marah-marah sama Tuhan, mengapa Tuhan tidak menyelamatkannya.
”Tuhan.. mengapa Engkau tidak menyelamatkanku???? Tanya pak Ful to the point.
Lalu Tuhan menjawab, to the point juga: “Emangnya yang mengirim tetanggamu pake rakit, yang mengirim perahu karet dan helicopter datang untuk menyelamatkanmu itu sapa???!!!”

Meski cerita kebanjiran diatas hanya cerita fiktif belaka, namun semoga dapat kita tarik hikmahnya. Allahua’lam bishawab.

Salam
Abet the sotoy

Kamis, 05 Mei 2011

Manusia: Ciptaan Yang Dilebihkan

Manusia adalah makhluk ciptaan yang dilebihkan dari makhluk ciptaan yang lain. Seperti apakah kelebihan manusia dibanding makhluk ciptaan yang lain? Mari kita telusuri dari kisah-kisah yang diceritakan dalam Al Qur’an. Kita bandingkan penciptaan Manusia dengan penciptaan Jin & Malaikat.

Penciptaan Manusia Pertama
Nabi Adam a.s. sebagai manusia pertama, beliau langsung diciptakan oleh Allah dari tanah kering yang diberi bentuk, lalu Allah meniupkan Ruh ke dalamnya. Beliau bukan keturunan dari siapa-siapa. Jadi bukan makhluk hasil evolusi dari jenis primata sebagaimana sangkaan Charles Darwin.
Karena tidak melalui proses kelahiran, maka nabi Adam saya duga tidak memiliki udel (puser) Hehehe....

Dari kisah penciptaan ini, secara langsung dapat kita ketahui ada 2 dzat yang dipakai untuk membentuk manusia pertama, yaitu:
• Tanah Kering, boleh dong saya sebut sebagai Materi.
• Ruh, yang membuat nabi Adam hidup dan bisa menerima ilmu dari Allah.
 
Meski hanya dua unsur yang terlihat, bukan berarti tidak ada unsur-unsur lainnya. Mari kita lanjutkan pembahasan kita.

Penciptaan Manusia Anak Cucu Adam
Berbeda dengan penciptaan manusia pertama yang langsung dibuat dari tanah yang diberi bentuk, anak-cucu keturunan manusia pertama ’tercipta’ melalui hukum-hukum Allah (sunnatullah) yang kita kenal sebagai proses biologis.

Tahapan Proses Biologis
1. Bertemunya Sperma dengan Ovum
Dimulai dari bertemunya Sperma dengan Ovum. Bisa kita pahami bahwa sperma dan ovum yang bertemu tersebut dalam keadaan hidup, jika tidak hidup maka tidak mungkin sperma bisa berjuang dalam tuba falopi bersaing dengan jutaan sperma lainnya memperebutkan satu Ovum.

  Pertanyaannya: Dengan dzat apakah sperma dan ovum itu hidup dan bergerak? Dengan dzat apakah sperma itu memiliki kecerdasan dan kehendak, sehingga bisa tahu bahwa diujung lorong (tuba falopi) itu terdapat sebutir telor yang diperebutkan oleh jutaan sperma?
 
Apakah dzat itu bisa kita sebut sebagai Ruh? Jiwa? Nyawa? Atau Malaikat?

Mungkin secara khusus dzat penggerak yang memiliki kecerdasan dan kehendak itu belum ada yang memberi nama. Baiklah untuk sementara dzat tersebut saya sebut sebagai Energi.

2. Segumpal Darah Menjadi Janin
Setelah seekor Sperma berhasil menembus kulit Ovum, maka mulailah terjadi proses pembelahan-pembelahan sel hingga membentuk Segumpal Darah. Dari segumpal darah pembelahan sel terus berlangsung hingga masing-masing membentuk fungsi dan bagian tubuh Janin.

Sungguh ajaib, hanya dari sebuah sel, proses pembelahan itu bisa menjadi janin. Pertanyaannya: Apakah nama dzat yang sangat cerdas, yang membuat sel itu bisa melakukan pembelahan diri dan membentuk fungsi, organ tubuh janin, seperti Kepala, badan tangan, kaki, Otak, dll?


Saya tidak mau menjawab pertanyaan itu dengan jawaban pamungkas: Allah Sang Maha Pencipta, karena jika demikian maka tidak akan ada pertanyaan lebih lanjut, dan pengetahuan kita terkait proses pembentukan janin, tidak akan bertambah.

Mungkin secara khusus dzat penggerak yang memiliki kecerdasan dan kehendak itu juga belum ada yang memberi nama, maka untuk sementara dzat tersebut saya sebut juga sebagai Energi.


3. Bulan Ke-4
Pada saat janin memasuki usia bulan ke-4, seperti kita ketahui, Allah meniupkan Ruh ke dalamnya.
Namun sebelum Ruh ditiupkan ke dalam janin tersebut, pertanyaannya: ”Hidupkah janin itu? Dengan apakah ia bisa hidup dan berkembang?”

Mungkin secara khusus dzat penggerak yang memiliki kecerdasan dan kehendak itu juga belum ada yang memberi nama, untuk sementara dzat tersebut sekali lagi saya sebut juga sebagai Energi.

Setelah Ruh ditiupkan oleh Allah, jadilah sang janin menjadi manusia sempurna. Ruh inilah yang membedakan manusia disatu sisi dengan Malaikat dan Jin. Ruh yang esensinya dzat yang lebih tinggi dan lebih agung dibanding Energi dan Cahaya. Setelah Ruh ditiupkan, Malaikat dan Jin diperintahkan oleh Allah bersujud dihadapan Adam. Jika esensi Ruh ini sama atau lebih rendah dibanding esensi Cahaya, tidaklah masuk akal jika Malaikat diminta bersujud oleh Allah SWT.

Dari proses penciptaan anak cucu Adam, yang terselenggara secara biologis dan meta-fisis tersebut, dapat kita lihat unsur-unsur penyusun manusia mungil (janin) tersebut, yaitu: Unsur Materi, Energi, dan RuhLhooo? Dimana unsur Jiwa (Cahaya) nya?

Setelah prosesi “peniupan” ruh, ternyata terbentuk pula Jiwa manusia sebagai mana dapat disimpulkan dari keterangan Al Qur’an (ayat) berikut.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", (QS 7:172)

Maka lengkaplah sudah unsur-unsur penyusun manusia itu: Materi, Energi, Cahaya dan Ilahiah.

Penciptaan Jin
Jin diciptakan dari Api, nyala api. Api, mungkin bisa saya ganti dengan istilah Energi. Energi yang dimaksud disini bukanlah energi yang bersifat materialistik seperti energi panas, energi potensial, energi listrik, dan lain-lain, melainkan Energi yang berada di atas Alam Materi. Bangsa Jin adalah makhluk yang diciptakan dari bahan dasar Energi dan mereka hidup di Alam Energi.

Mengapa saya menggunakan istilah yang sama (Energi) seperti pada proses penciptaan manusia? Karena ternyata menurut saya.. (ini menurut pemahaman saya lhoooo?) Energi manusia bisa bersinggungan, beradu, tarik-menarik dengan Energi bangsa Jin sehingga saya simpulkan sama.

Sesuai dengan kisah yang diceritakan dalam Al Qur’an, Malaikat dan iblis pernah diminta sujud kepada Adam setelah Allah meniupkan Ruh (ciptaan)-Nya. Dan disebutkan pula, Iblis adalah makhluk dari golongan jin.
Pertanyaannya: Sebagai Jin – makhluk Energi, mengapa Iblis bisa bersama-sama Malaikat di alam Cahaya?

Konon, dari cerita yang pernah saya dengar, Iblis dulunya merupakan seekor Jin yang sangat taat beribadah. Saking taat dan rajinnya beribadah, dan ia bisa benar-benar meninggalkan nafsu duniawi.. eh energi-i nya. Maka, Tubuh Energinya bersih bersinar, dan terangkatlah derajatnya menjadi makhluk Cahaya dan berkumpul dengan para malaikat.

Dari cerita ini, dapat kita lihat bahwa bangsa Jin selain terbuat dari unsur Energi, mereka juga memiliki unsur yang membuat mereka bisa menggapai alam Cahaya, yaitu Unsur Cahaya.

Dari kisah iblis dapat kita ambil hikmahnya, ketika muncul kesombongan di ditubuh energinya (hatinya), maka terjatuhlah Iblis kembali ke Alam Energi (baca: diusir).


Bila kita perhatikan, ada persamaan antara Jin dan Manusia, yaitu sama-sama diberi “kebebasan” untuk memilih: Mau tunduk-patuh (ibadah) or mbalelo? (Fujur atau taqwa).
Mengapa sama-sama bebas memilih? Karena sama-sama memiliki tubuh energi itulah..

Malaikat Diciptakan Dari Cahaya
Cahaya yg dimaksud, saya pahami bukan Cahaya yang kita kenal dalam alam materi ini seperti cahaya matahari, cahaya lampu, cahaya api dan lain-lain. Karena jika cahaya tersebut adalah cahaya yang bersifat materialistic, maka malaikat tidak akan mampu menembus dinding atau bahkan selembar kertas yang bersifat materialistic.

Jadi Cahaya yang dimaksud adalah sesuatu dzat yang sifatnya sangat agung dan tinggi, yang tidak ada kosa-katanya dalam bahasa manusia, makhluk bumi. Tidak ada kosakatanya dalam bahasa alam materi.
Dalam riwayatnya, malaikat adalah makhluk yang tidak memiliki nafsu dan senantiasa tunduk patuh kepada Allah SWT.


Makhluk dan Unsur Pembentuknya
Berdasarkan pemaparan pemahaman saya diatas, yang belum tentu benar karena baru dugaan-dugaan saja (maka jangan dipercaya ya… hehehe), dapat saya simpulkan makhluk dan unsur pembentuknya dalam tabel berikut:

Dari tabel ilustrasi tersebut dapat kita bandingkan unsur-unsur yang dimiliki manusia dibanding makhluk lain. Bukan untuk berbangga-bangga diri melainkan agar lebih memahami posisi diri kita ini sehingga lebih memperjelas jalan kita menapak kembali ke Sang Pencipta.

Benda Mati
Benda Mati, tidak memiliki unsure-unsur lain kecuali semata-mata hanya materi. Sedang manusia memiliki semua unsur termasuk materi. Namun sesungguhnya, tidak ada yang bisa dikatakan sebagai benda mati karena ketika dibelah dan dibelah, akan ketemu suatu zarah yang selalu berputar, bertasbih mengelilingi intinya.


Tumbuhan dan Hewan
Tumbuhan dan Hewan tersusun dari unsure tanah dan unsure energi. Hewan dan Tumbuhan tidak diganjar surga dan neraka karena perbuatan mereka. Lho bukankah kalau memiliki unsur energi mereka bisa memilih fujur atau taqwa? Mengapa demikian? Jawabannya nanti ya.. saya cari-tahu dulu... hehehe.


Jin
Bangsa jin diciptakan dari api, begitu istilah yang dipakai dalam kitab suci. Api inilah unsur energi yang saya maksud.
Selain unsur api (energi), bangsa jin memiliki unsur cahaya.


Malaikat
Malaikat adalah makhluk yang diciptakan hanya dari unsur cahaya, dalam tingkatan unsur yang paling tinggi sehingga mereka selalu suci dan senantiasa tunduk patuh kepada Allah SWT. Mereka tidak memiliki nafsu, hasrat, emosi dan pikiran. Tapi mereka makhluk cerdas.


Bagaimana dengan makhluk yang disebut manusia?
Manusia memiliki semua unsur yang ada pada semua makhluk ciptaan Allah yaitu: Materi, Energi, dan Cahaya. Plus, satu unsur lagi yang tidak dimiliki oleh makhluk-makhluk ciptaan Allah lainnya, yaitu unsur Ilahiah.
Itulah Ruh manusia, yang selalu benar, yang selalu tahu (bashiroh), dan selalu dekat dengan Allah SWT, yang Allah tidak memberitahu esensinya kepada kita-kita (manusia) kecuali hanya sedikit.


Unsur inilah yang saya duga, menyebabkan Malaikat dan Iblis diperintahkan untuk bersujud kepada Adam. Unsur ini pulalah yang saya duga, membuat baginda nabi Muhammad SAW bisa ke sidratul muntaha, sedang malaikat tidak.

Manusia akan tetap disebut sebagai manusia bila memiliki ke empat unsur tersebut. Tanpa salah satu unsur: BODY-MIND-SOUL-SPIRIT, manusia tidak bias dikatakan sebagai manusia lagi.

Contoh: Bila unsur tertinggi - Ruh dicabut.. Bodynya akan segera disebut mayat. Bila jasad nya sudah membusuk atau tidak ketahuan juntrungannya cukup disebut almarhum/ah. Jika Pikirannya hilang akan disebut wong-edan dan seterusnya..


Itu semua menurut pemahaman saya lho..., Tentunya pemahaman saya ini banyak salahnya, dan bisa jauh berbeda dengan pemahaman orang lain. Jadi harap maklum namanya juga mengira-ira...

Khalifah Di Muka Bumi
Manusia dengan segala kelebihannya, mengemban amanah sebagai khalifah dimuka bumi. Mari kita jaga amanat itu, bumi ini dan segala isinya, bukan milik kita. Kita tidak boleh merusak dan memilikinya. Bumi ini milik Allah.


Dengan segala kelebihannya, maka masuk akallah ketika manusia dilarang mengandalkan pertolongan kepada selain Allah. Bahkan dalam doa yang kita baca 17X (minimal) sehari, kita selalu berkomitment: ”iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” Hanya kepada Mu kami menyembah dan hanya kepada Mu kami memohon pertolongan. Meski tanpa sadar, komitmen kita lebih sering hanya sebatas komat-kamit saja.

Mungkin kisah nabi Ibrahim As yang hanya berharap pertolongan Allah SWT ketika hendak dibakar, dapat dijadikan contoh tauladan bagi kita.

Mungkin kisah baginda rasullalah Muhammad SAW yang dengan mantab menjawab: ”ALLAH” ketika pedang Datsur siap menebas leher, dapat dijadikan contoh tauladan bagi kita.


Manusia adalah makhluk yang diciptakan paling sempurna. Namun kesempurnaan itu akan mewujud bila manusia telah pasrah berserah diri (absolute surrender) melalui jalan tauhid.

Semoga bermanfaat. Allahu a’lam bishawab.

Salam
Abet