Jumat, 12 November 2010

Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un

Siapa yang meninggal Dunia? Mbah Maridjan? Iya.. mbah Maridjan memang sudah lama meninggal, didatangi Wedhus Gembel. Tapi bukan itu yang mau saya tulis. Pertanyaan "siapa yang meninggal" sangat umum muncul ketika membaca tulisan "inna lillahi...". Namun ternyata, setelah menyimak ayat-ayat yang terkait, "inna lillahi..." bukan semata-mata hanya ucapan ketika ada yang meninggal dunia saja. Mari kita lihat ayat-ayat berikut.
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikan berita gembira kepada orang-orang yang sabar". (QS 2:155)
Bagi orang yang beriman, atau ingin diakui sebagai orang beriman, atau akan naik kelas iman, mereka akan diuji oleh Allah dengan ujian-ujian yang ciri-ciri seperti tertera pada ayat 2:155 diatas.

Saya coba bahas sedikit.. (karena memang cuma sedikit ini yang saya bisa.. hehehe..).
Sedikit ketakutan. Takut ditinggal pergi pasangan hidup, takut tidak punya uang, takut jatuh miskin, takut ancaman penguasa dzolim, takut berbuat dosa, dan sebagainya.
Kelaparan. Takut tidak bisa makan, takut tidak bisa membeli makanan, banyak orang yang sakit karena kehilangan mata pencaharian, diberhentikan dari jabatannya, sakit karena takut nggak bisa makan: ”besok anak-istri saya makan apa?”.
Kekurangan harta. Manusia punya kecenderungan suka mengumpul-ngumpulkan harta, efek negatif dari kecenderungan cinta harta ini, manusia takut hartanya hilang atau berkurang.
Kekurangan (kehilangan) Jiwa. Takut akan mati, padahal mati adalah sebuah kepastian. Untuk mencapai pintu surga atau neraka, wajib melalui pintu ini. Mengapa takut? Mungkin yang ditakutkan bukan kematian itu sendiri, melainkan bekal yang dibawa menuju alam setelah mati, atau belum puas menikmati kehidupan duniawi ini.
Kekurangan buah-buahan. Bahkan hal yang "sepele" seperti kekurangan buah-buahan atau "ngotot-ngototan" soal buah-buahan pun bisa menjadi ujian dari Allah.

Manusia memang selalu merasa khawatir, takut, padahal Allah sudah berjanji akan mengabulkan doa-doa hamba-Nya. bukankah ini namanya kepercayaannya belum bulet 100%?

Ingin Menjadi Orang Beriman, Harus Sabar
Bagi orang-orang yang mendambakan derajat keimanan yang tinggi, mereka diminta menetapi kesabaran agar mendapatkan kabar gembira.

Seperti apa kesabaran yang dimaksud? Dan Apa berita gembira yang didapatkan? Mari kita tengok ayat berikutnya.
"(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan "Innalillahi wa inna ilaihi rooji'uun". (QS 2:156)
”Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS 2:157)
Jadi ketika kita mengalami kerugian usaha, atau ada anggota keluarga yang meninggal, harta kita: mobil, motor, handphone, duit, dan lain-lain, hilang entah kemana, maka ingat dan katakanlah "Innalillahi wa inna ilaihi rooji'uun". Sesungguhnya kita tidak memiliki apa-apa di dunia ini, semua yang kita "kira" kita miliki, adalah milik Allah. Kita khilaf mengakui semua harta yang ada dirumah kita adalah milik kita, anak-anak milik kita, keberanian punya kita, dan sebagainya, padahal sesungguhnya semua itu milik Allah, kita hanya dititipi saja. Bahkan diri ini, Jiwa kita, Ruh kita, adalah milik-Nya. Sangat mudah bagi Allah untuk mengambil kembali titipanNya.

"Innalillahi wa inna ilaihi rooji'uun" tidak cukup hanya sebatas kata-kata saja, sebatas ingat saja, tetapi katakan dengan penuh pemahaman dan kesadaran.
Jika Sang Pemilik meminta kembali titipan-Nya, sudah seharusnya kita dengan ikhlas, legowo lilo-lilo, menyerahkan kembali kepada Nya.
Dalam khasanah kesufian tidak adanya kelekatan dengan harta benda, dan nafsu duniawi lainnya dikenal sebagai Zuhud.

Berita gembira yang didapat adalah sesuai dengan ayat 2:157 diatas, mereka masuk dalam golongan orang-orang yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan. Dan mereka mendapat petunjuk, yang dengan (menjalankan) petunjuk itu mereka akan lulus Ujian, selamat dunia akhirat.

Apakah yang dimaksud dengan petunjuk?
Dalam Al Qur’an kita bisa melihat contoh-contoh petunjuk Allah yang diberikan kepada para nabi:
”Nabi Musa diminta melemparkan tongkatnya ke lantai, yang dengan seketika berubah menjadi ular”.
”Nabi Musa diminta untuk mengangkat tongkatnya ke atas, lalu terbelahlah laut”.
”Nabi Musa diminta untuk menemui Nabi Khidir”
”Nabi Nuh diminta membuat kapal di atas gunung”
Dan banyak lagi petunjuk-petunjuk, baik yang tertuang dalam hadits, Al Qur’an, maupun yang tidak, yang kita ketahui (baca) maupun tidak. Silahkan dicari.

Apakah petunjuk-petunjuk itu hanya berlaku bagi para Nabi & rasul? Saya rasa tidak, bagi orang yang sabar (sabar menurut penilaian Allah, bukan diri kita sendiri) dan menetapi syariat Allah, insya Allah akan mendapat petunjuk.

Selalu Beserta Allah
Selain sabar dan menetapi syariat Allah, agar kita mendapat petunjuk, maka usahakan diri kita selalu beserta Allah.
"Kun ma'allah faiilam takun ma'allah fakun ma'a man ma'allah. Fainnahu yuushilka ilallah". Adakanlah! (jadikanlah)! dirimu itu beserta Allah, jika engkau (belum bisa) menjadikan dirimu beserta Allah, maka adakanlah (jadikanlah) beserta orang-orang yang beserta Allah, maka sesungguhnya, (orang itu) yang menghubungkan engkau kepada Allah.
Inget lagu Tombo Ati? Ya nasihat tersebut mirip nasihat "Berkumpullah dengan orang sholeh".

Wa’allahu a’lam bishawab.

Salam
Abet

Tidak ada komentar: