Rabu, 09 Maret 2011

Halusinasi

Apakah halusinasi itu? Dari berbagai sumber di internet, dapat saya cuplik-cuplik pengetahuan berikut:

Halusinasi adalah terjadinya persepsi dalam kondisi sadar tanpa adanya rangsang nyata terhadap indera. Kualitas dari persepsi itu dirasakan oleh penderita sangat jelas, substansial dan berasal dari luar ruang nyatanya. Definisi ini dapat membedakan halusinasi dengan mimpi, berkhayal, ilusi dan pseudohalusinasi (tidak sama dengan persepsi sesungguhnya, namun tidak dalam keadaan terkendali). Contoh dari fenomena ini adalah dimana seseorang mengalami gangguan penglihatan, dimana ia merasa melihat suatu objek, namun indera penglihatan orang lain tidak dapat menangkap objek yang sama (Wikipedia)
• Halusinasi juga harus dibedakan dengan delusi pada persepsi, dimana indera menangkap rangsang nyata, namun persepsi nyata yang diterimanya itu diberikan makna yang dan berbeda (bizzare). Sehingga orang yang mengalami delusi lebih percaya kepada hal-hal yang atau tidak masuk logika. (Wikipedia)
• Halusinasi adalah gangguan pencerapan (persepsi) panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh / baik (Stuart & Sundenn, 1998).
• Halusinasi adalah persepsi tanpa adanya rangsangan apapun pada panca indera seorang pasien yang terjadi dalam keadaan sadar/terbangun. (Maramis, hal 119)
• Halusinasi yaitu gangguan persepsi (proses penyerapan) pada panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar pada pasien dalam keadaan sadar.
• Halusinasi merupakan persepsi yang abnormal pada individu dimana ia sadar dan terjaga akan tetapi tanpa adanya stimulus pada reseptor panca indera yang nyata diluar dirinya. Halusinasi, dengan kata lain persepsi tanpa objek yang jelas.
• Halusinasi adalah persepsi panca indera yang terjadi tanpa adanya rangsangan pada reseptor-reseptor panca indera. Dengan kata lain, halusinasi adalah persepsi tanpa obyek.

Jenis-jemis Halusinasi berdasarkan indera yang bereaksi saat persepsi terbentuk:

1. Halusinasi auditorik (pendengaran). Halusinasi ini sering berbentuk:
    a) Akoasma, yaitu suara-suara kebisingan tanpa dapat dibedakan makna secara jelas.
    b) Phonema, yaitu suara-suara dari manusia berupa kalimat. Penderita mendengar kalimat-kalimat secara jelas atau potongan kalimat (kata) tertentu saja.

2. Halusinasi visual (penglihatan). Penderita melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Halusinasi pada penderita psikotik dan schizophrenia menimbulkan ketakutan luar biasa. Individu merasa dirinya terancam karena "melihat" orang-orang yang ingin membunuhnya, mencari atau menangkapnya. Halusinasi ini kadang juga dalam bentuk cahaya.

3. Halusinasi olfaktorik (pembauan). Penderita merasa mencium sesuatu yang tidak dia sukai.

4. Halusinasi gustatorik (pengecap). Halusinasi ini sangat jarang dilaporkan atau dijumpai. Individu mengecap sesuatu yang tidak disukainya, pada penderita schizophrenia berperilaku meludah secara terus-menerus karena merasakan rasa yang tidak disukainya.

5. Halusinasi taktil (perabaan). Halusinasi ini sering dijumpai pada pencandu narkotika dan obat terlarang.

6. Halusinasi haptik. Halusinasi ini biasanya beriringan dengan halusinasi taktil dimana seolah-olah tubuh penderita bersentuhan secara fisik dengan individu atau benda lain. Seringkali halusinasi haptik ini bercorak seksual, dan sangat sering dijumpai pada pencandu narkoba.

7. Halusinasi kinestetik. Penderita merasa bahwa anggota tubuhnya terlepas dari tubuhnya, mengalami perubahan bentuk, dan bergerak sendiri. Hal ini sering terjadi pada penderita schizophrenia dan pencandu narkoba.

8. Halusinasi autoskopi. Penderita seolah-olah melihat dirinya sendiri berdiri di hadapannya.

9. Halusinasi mikrokospik. Beberapa gangguan kecemasan seperti obsesif kompulsif merasakan sesuatu yang bergerak-gerak (seperti kuman, bakteri, insekta) diatas kulitnya.

Pencetus Terjadinya Halusinasi
• Sakit dengan panas tinggi sehingga mengganggu keseimbangan tubuh.
• Gangguan jiwa Skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya
• Pengkonsumsian narkoba atau narkotika tertentu seperti : ganja, morphin, kokain, dan alkohol berkadar diatas 35% : seperti vodka, gin diatas batas kewajaran
• Trauma yang berlebihan.
• Terisolasi dan kesepian yang menyebabkan kurangnya rangsangan eksternal.
• Stress dan kecemasan yang berkepanjangan, yang menggangggu sistem metabolisme tubuh.
• Perpisahan dari orang yang sangat penting atau diasingkan oleh kelompok/ masyarakat; kurang interaksi,
• Perasaan / suasana terisolasi (sepi);
• Dan lain-lain.


Pencetus tersebut diatas menyebabkan stimulus internal menjadi lebih dominan daripada stimulus eksternal, sehingga penderita terlarut yang pada akhirnya penderita kehilangan kemampuan membedakan stimulus internal dengan stimulus eksternal. Inilah yang memicu terjadinya halusinasi.

Beberapa Tanda dan Gejala Halusinasi
• Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul
• Menarik diri dan menghindar dari orang lain (menyendiri)
• Komunikasi kurang/ tidak ada. Tidak ada kontak mata, sering menunduk
• Berdiam diri di kamar, kurang mobilitas
• Menolak berhubungan dengan orang lain, pergi jika diajak bercakap-cakap
• Tidak/ jarang melakukan kegiatan sehari-hari.
• Suka bicara sendiri, senyum dan tertawa sendiri
• Mengatakan mendengar suara, melihat, menghirup, mengecap dan merasa sesuatu yang tidak nyata.
• Tidak dapat memusatkan perhatian
• Merusak diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
• Ekspresi muka tegang, mudah tersinggung
• Curiga, bermusuhan, merusak (diri sendiri, orang lain dan lingkungannya), takut
• Tidak dapat membedakan hal yang nyata dan hal tidak nyata.

Proses terjadinya halusinasi (Stuart & Laraia, 1998) dibagi menjadi empat fase yang terdiri dari:

Fase Pertama
Klien mengalami kecemasan, stress, perasaan terpisah dan kesepian, klien mungkin melamun, memfokuskan pikirannnya kedalam hal-hal menyenangkan untuk menghilangkan stress dan kecemasannya. Tapi hal ini bersifat sementara, jika kecemasan datang klien dapat mengontrol kesadaran dan mengenal pikirannya namun intesitas persepsi meningkat.

Fase Kedua
Kecemasan meningkat dan berhubungan dengan pengalaman internal dan eksternal, individu berada pada tingkat listening pada halusinasinya. Pikiran internal menjadi menonjol, gambarn suara dan sensori dan halusinasinya dapat berupa bisikan yang jelas. Klien membuat jarak antara dirinya dan halusinasinya dengan memproyeksikan seolah-olah halusinasi datang dari orang lain atau tempat lain.

Fase Ketiga
Halusinasi lebih menonjol, menguasai dan mengontrol. Klien menjadi lebih terbiasa dan tidak berdaya dengan halusinasinya. Kadang halusinasinya tersebut memberi kesenangan dan rasa aman sementara.

Fase Keempat
Klien merasa terpaku dan tidak berdaya melepaskan diri dari kontrol halusinasinya. Halusinasi sebelumnya menyenangkan berubah menjadi mengancam, memerintah, memarahi. Klien tidak dapat berhubungan dengan orang lain karena terlalu sibuk dengan halusinasinya. Klien hidup dalam dunia yang menakutkan yang berlangsung secara singkat atau bahkan selamanya.




HALUSINASI VERSI ABET
Tulisan diatas murni dari hasil cuplikan sana-sini. Berikut saya coba menuliskan halusinasi versi saya.

Masih ingat alam materi dan alam energi? Bila sudah lupa atau belum baca, silahkan baca pada artikel saya sebelumnya.

Stimulus dan Persepsi yang diterima oleh penderita halusinasi, menurut saya memang ada, namun bukan di alam materi ini melainkan di alam energi. Seseorang dianggap berhalusinasi jika tidak bisa membedakan realitas alam energi dengan alam materi. Dengan bahasa lain: Kehilangan kemampuan membedakan stimulus internal dengan stimulus eksternal. Yang bersangkutan sesungguhnya melihatnya di alam energi, namun diresponnya dengan tindakan-tindakan fisik di alam materi.

Dalam sebuah kesempatan berkunjung ke rumah sakit, saya menemui seorang pasien yang berhalusinasi sebagai berikut:
• melihat kantong plastic (kresek) warna hitam,
• melihat banyak ular berkeliaran di ruang inapnya,
• kedatangan dua orang tamu yang mengancam,
• api yang membakar, dan lain-lain.

Dari apa yang dilihatnya, saya lihat ada 2 sumber halusinasi: Secara Internal berasal dari pikirannya sendiri yang muter-muter tidak terkendali, dan dari faktor external yaitu dari makhluk jin yang ada disekitar.

Untuk membuktikan dugaan saya tersebut, saya melakukan hal-hal berikut:

• Ketika pasien berhalusinasi melihat kantong plastic hitam yang bergerak ditiup angin, dengan kekuatan pikiran (visualisasi) saya coba ubah plastic hitam yang dilihatnya tersebut menjadi burung berwarna hijau. Lalu saya katakan pada pasien: “plastiknya sudah tidak ada pak, yang ada burung cantik berwarna hijau”. Apa yang terjadi? Pasien tersebut melihat burung warna hijau hasil visualisasi saya.
• Ketika pasien berhalusinasi melihat ular, saya tangkap dan buang ular-ular tersebut menggunakan kekuatan pikiran.

Membantu Menyembuhkan Halusinasi
Karena halusinasi adalah masalah ketidak-sadaran, treatment yang saya sarankan untuk menyembuhkan sbb:
• Sering-sering berikan sentuhan kepada pasien agar kesadarannya kembali dan lebih sering berada pada kesadaran materi (kesadaran fisik).
• Ajak berkomunikasi, jangan biarkan melamun dan bengong.
• Ketika kesadarannya berada di alam materi, coba berikan penjelasan (sadarkan) bahwa persepsi yang telah dilihatnya tidak terjadi di alam materi melainkan di alam energi.
• Latih untuk bisa membedakan antara yang ada di alam nyata (materi) dan alam energy.
• Ajarkan Iman, Sabar, Ikhlas dan Syukur.


HIKMAH DARI HALUSINASI
Anda suka beli togel? Bertanyalah pada orang gila…. La wong edan kok ditanyain nomer???. Sapa yang edan coba?? Hehehe.. Lho emang apa hubungannya: togel, orang gila dan halusinasi?

Orang gila, yang suka berhalusinasi menurut saya dekat dengan orang-orang yang memiliki Extra Sensory Perception (ESP) atau indra keenam. Bedanya sangat tipis:
Orang yang memiliki ESP menyadari bahwa apa yang dilihat, didengar dan dirasa, tidak terjadi di alam materi ini melainkan di alam energy, sedang penderita halusinasi tidak menyadarinya.

Orang yang memiliki ESP dalam sejarah hidupnya pernah “mengasingkan diri” dari keramaian duniawi: Bertapa di gua yang sunyi dan gelap, ngebleng, meditasi, tafakur, dan lain-lain. Bahkan mengasingkan diri dengan cara puasa berbicara dan berpikir, dapat menambah kepekaan pendengaran batin kita (auditory).

Jadi jika kita ingin mengasah kemampuan ESP, asingkan diri barang beberapa hari sesuai kemampuan. Dengan mengasingkan diri, akan membuat komunikasi dengan sesama berkurang, interaksi menggunakan kesadaran materi berkurang, maka suara-suara yang tidak pernah kita dengar, persepsi yang terabaikan, akan mulai terlihat. Tentu saja syarat dan ketentuan berlaku...

Ini hanya saran lho... karena saya tidak bertanggung-jawab jika anda berurusan dengan psikiater sehabis bertapa…. Hehehe….

Semoga bermanfaat & Wassalam
Abet

Tidak ada komentar: