NIAT

“When I need You, I just close my eyes and (wuuuzzzz…) I am with you..”
begitu kata om Julio Iglesias kalo niat pingin nemuin someone...

Enak banget yak? Cuma nutup mata doang, .. nyampe dah pada si-doi. Bisa nggak ya kita begitu?

Dalam dunia “energi” dan “cahaya”, segala sesuatu cukup dilakukan dengan modal Niat. Bangsa Jin hanya bermodal niat untuk bepergian kemana dia suka (dan sanggup). Niat mau ke Mekah, nggak perlu mikir naik apa atau pakai apa, wuzzz seketika itu juga dia dah nyampe di sono. Bagi orang yang bisa sadar sebagai tubuh energi, dapat melakukan hal yang sama. Just Niat. Tentu saja ini ada *Syarat dan Ketentuan yang berlaku.

Dengan Niat pula, pahala istighfar dan al fatihah yang kita panjatkan BISA kita atas-namakan orangtua kita, anak kita, atau siapapun, insya Allah akan sampai.
Hanya berbekal Niat, kita bisa mengirim sholawat dan salam untuk baginda Rasulallah SAW dan insya Allah akan nyampe kepada beliau. Insya Allah.

Niat berdoa memohonkan pertolongan kepada Allah.. maka sampailah doa kita kepada Allah dan insya Allah dikabulkan doa kita.

Niat minta pertolongan dengan yang mbahurekso pesugihan di Fujian dari jarak jauh, maka sampailah maksud kita ke sono.

Niat ngobatin orang yang kena santet, maka kita akan diserbu jin-jin bala-tentara dari santet provider hehehe.. mengapa? Karena sinyal kuat eh niat kita nyampe duluan ke tempat mereka dan meng-alert early warning system mereka.... benar-benar sinyal kuat hehehe bukan iklan ...

The Power of Niat. Niat itu teramat penting. Tak hanya berguna di alam energi dan alam cahaya, Niat juga sangat penting dalam dunia materi. Niat merupakan modal utama untuk mewujudkan cita-cita atau keinginan. Niat memang bukan sekedar mengucapkan sebaris kata atau kalimat, dibibir saja, justru yang paling penting harus berasal dari “lubuk hati yang paling dalam” dan bersungguh-sungguh dalam pelaksanaannya.
Orang yang melakukan sesuatu dengan setengah hati, akan dicap: “nggak niat lu..”.
Biar bisa Niat, musti dilandasi dengan keyakinan. Paham nggak paham harus yakin, walau yang terbaik memang yang paham siih....


Niat setidaknya memiliki dua komponen: Tujuan (atau target kali yee..) dan Semangat (Hasrat). Tujuan bisa kita ibaratkan Setir (steer) yang mengendalikan arah mobil, sedang Semangat kita ibaratkan Pedal gas yang menentukan laju kecepatan mobil.

Jika Setir tidak kita arahkan ke tujuan, meleng meluluu.. jangan berharap sampai ditujuan bukan? Atau pedal gas tak pernah kita tekan, kapan nyampe’nya?
Saya jadi keingetan tulisan di jalan Tol: Nyopir jangan ngantuk. Ngantuk jangan nyopir.

INNAMAL A’MALU BINNIYYAT
Niat dalam beribadah sangat menentukan sampai tidaknya tujuan ibadah kita. Dapat tidaknya dan besar kecilnya nilai “pahala” ibadah sangat ditentukan oleh niat ini.
Kita memiliki keyakinan bahwa dekat dengan Allah itu sungguh ”luar biasa”, dan kita punya Tujuan ingin dekat. Bila semangat mendekatkan diri kita ”melempem” maka..

Niat Puasa pingin jadi “sakti” ya tentunya akan memperoleh “sakti”. Puasa untuk membersihkan diri insya Allah akan mendapatkan kebersihan diri.
Niat Puasa hanya karena ikut-ikutan, ya boleh jadi Cuma “lapar dan dahaga” yang di dapat. Tapi, daripada ikut-ikutan lalu Cuma dapet lapar dan haus, menurut saya mendingan niatnya agar langsing ato biar dianggap sebagai orang yang rajin tirakat... hehehe.

Niat sholat untuk menggugurkan kewajiban, maka gugurlah kewajiban.
Niat sholat untuk menghadap Allah, maka sampailah kita dihadapan Allah dan gugurlah kewajiban.

Sholat kita akan “tertolak”, tidak bernilai ibadah jika niatnya tidak karena Allah. Karena malu sama mertua, malu sama teman, atau karena terpaksa. Sholat juga tidak akan bernilai ibadah jika kita salah menghadap, bukan pada Yang Maha Tinggi tetapi kepada selain Dia.

Bagaimana jika dalam sholat, pikiran (setir) kita oleng ke kiri dan ke kanan? Ditambah lagi suka garuk-garuk dan menguap? Makanya hayooo kuatkan niat...
Biar rally ibadah kita cepat nyampe: ”pegang setir kuat-kuat, ikuti kata navigator dan injak gas pooolllll.... jaga jarum tacho & speedometer selalu di garis merah..” Jangan hanya di wilayah materi, atau emosi dan pikiran.. tetapi musti di-”gas” di skala ”rasa” atau yang lebih tinggi lagi....

Waallahua’lam.

Jadi apapun Niatnya minumannya tetap teu boong..
Tetap kita juga yang minum... . Piiis Ah!!!!

Salam
Abet

Komentar

Postingan Populer